PPS Ungkap Peningkatan Penangkapan Perempuan Palestina oleh Israel
24 Apr 2026
0 Suka
Otoritas militer pendudukan Israel dilaporkan meningkatkan penangkapan terhadap perempuan Palestina secara sistematis dan berkelanjutan. Kantor berita resmi Palestina, WAFA, pada Kamis, 23 April 2026, mengutip laporan Palestinian Prisoner’s Society (PPS) yang menyebut jumlah perempuan Palestina yang saat ini ditahan di penjara Israel mencapai 90 orang hanya sepanjang April 2026. Data tersebut menunjukkan peningkatan jumlah tahanan perempuan yang disebut PPS sebagai salah satu angka tertinggi sejak gelombang penangkapan massal meningkat pada fase awal perang di Gaza.
Dalam pernyataan resminya yang dikutip WAFA, PPS menyebut sebagian besar perempuan Palestina tersebut ditahan di Penjara Damon, Israel utara. Di antara mereka terdapat dua anak perempuan di bawah umur, seorang perempuan yang sedang hamil tiga bulan, 25 tahanan administratif yang ditahan tanpa dakwaan formal, tiga jurnalis, dua pasien kanker, serta dua perempuan yang telah ditahan sejak sebelum perang pecah pada Oktober 2023.
“Perempuan tahanan menghadapi kondisi penahanan yang keras, termasuk kelaparan, pengabaian medis, kekerasan, isolasi, dan penggeledahan yang merendahkan martabat,” demikian pernyataan PPS.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa sebagian besar penangkapan dilakukan dengan tuduhan “hasutan” atau incitement. PPS menyebut sejak perang Gaza dimulai pada Oktober 2023, lebih dari 700 perempuan Palestina telah ditangkap di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, serta wilayah Palestina lainnya. Organisasi itu menambahkan bahwa tidak ada angka pasti terkait perempuan yang ditangkap dari Gaza karena keterbatasan akses data.
Pada awal April 2026, PPS bersama Addameer Prisoner Support and Human Rights Association serta Commission of Detainees’ Affairs juga melaporkan bahwa lebih dari 9.600 warga Palestina berada dalam tahanan Israel. Dari jumlah tersebut, 86 di antaranya adalah perempuan dan sekitar 350 lainnya merupakan anak-anak. Data itu kemudian meningkat menjadi 90 perempuan tahanan berdasarkan pembaruan laporan terbaru.
Anadolu Agency dalam laporan tertanggal 22 April 2026 turut mengonfirmasi temuan serupa. Lembaga tersebut mengutip PPS yang menyatakan bahwa para tahanan perempuan menghadapi kekurangan makanan, keterbatasan akses kesehatan, serta tindakan kekerasan selama masa penahanan.
Di balik angka-angka tersebut, terdapat keluarga yang menunggu kepulangan ibu, anak perempuan, saudara, dan jurnalis yang kini berada di balik jeruji. Laporan terbaru ini kembali menempatkan perempuan Palestina sebagai kelompok yang terdampak langsung dalam konflik berkepanjangan yang masih berlangsung hingga April 2026. (nun/avi)