Ketika Patung Yesus Rusak, Dunia Diingatkan pada Ribuan Nyawa yang Hilang
23 Apr 2026
0 Suka
Pernyataan Pendeta Gereja Lutheran Injili Christmas di Ramallah, Munther Isaac, dalam beberapa hari terakhir menjadi kritik moral yang tajam terhadap cara dunia merespons kekerasan di Timur Tengah. Isaac meminta kemarahan publik tidak berhenti pada insiden perusakan patung Yesus oleh seorang tentara Israel di Lebanon selatan, tetapi diarahkan pada persoalan yang jauh lebih besar: kematian warga sipil, kehancuran infrastruktur, dan krisis kemanusiaan yang meluas di Gaza dan Lebanon.
Pernyataan itu muncul setelah beredar rekaman seorang tentara Israel menghancurkan patung Yesus menggunakan palu di desa mayoritas Kristen, Debel, Lebanon selatan. Insiden tersebut memicu kecaman luas dari komunitas Kristen internasional, Vatikan, hingga pejabat Israel sendiri.
Militer Israel kemudian mengakui keaslian rekaman tersebut, menjatuhkan hukuman penjara militer selama 30 hari kepada dua tentaranya, dan menyatakan tindakan itu melanggar nilai militer mereka.
Namun Isaac menilai kemarahan dunia terlalu sempit jika hanya berhenti pada simbol keagamaan yang dirusak. Dalam pernyataannya di platform X, ia menegaskan bahwa “kemarahan yang sesungguhnya harus diarahkan pada penargetan warga sipil, penghancuran martabat manusia, serta kehancuran di Gaza dan Lebanon.” Pernyataan itu memperlihatkan frustrasi mendalam warga Palestina Kristen yang selama ini merasa tragedi kemanusiaan di Gaza sering kalah perhatian dibanding insiden simbolik yang lebih mudah viral.
Data kemanusiaan menunjukkan konteks yang dimaksud Isaac jauh lebih besar. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan lebih dari 61.000 warga Palestina telah terbunuh sejak perang meletus pada Oktober 2023, dengan mayoritas korban merupakan perempuan dan anak-anak. Sementara UNICEF memperingatkan ratusan ribu anak hidup dalam kondisi trauma berat, kelaparan, dan kehilangan akses pendidikan.
Di Lebanon, eskalasi konflik sejak Maret 2026 juga memperluas penderitaan sipil. Anadolu Agency melaporkan serangan militer Israel telah menewaskan sedikitnya 2.294 orang, melukai 7.544 lainnya, serta memaksa lebih dari satu juta warga mengungsi dari rumah mereka.
Persoalan yang lebih mendalam adalah pola kekerasan yang terus berulang dengan tingkat akuntabilitas yang lemah. Berbagai organisasi HAM internasional, termasuk Amnesty International dan Human Rights Watch, berulang kali menyoroti pelanggaran hukum humaniter internasional dalam operasi militer Israel di Gaza, Tepi Barat, dan Lebanon.
Fenomena ini memperlihatkan paradoks global bahwa dunia cepat bereaksi terhadap penghancuran simbol keagamaan, tetapi sering lambat merespons kehancuran sistematis terhadap kehidupan manusia. Kritik Isaac pada dasarnya adalah kritik terhadap hierarki empati global yang kerap gagal menempatkan nyawa warga sipil sebagai prioritas utama.
Di tengah situasi ini, pembelaan dunia terhadap Palestina tidak dapat berhenti pada pernyataan diplomatik normatif. Perserikatan Bangsa-Bangsa, negara-negara besar, organisasi keagamaan global, serta masyarakat sipil internasional dituntut mendorong gencatan senjata permanen, investigasi independen, serta penghentian dukungan politik dan militer terhadap tindakan yang memperpanjang penderitaan warga sipil.
Pesan Isaac sangat jelas: tragedi terbesar di Timur Tengah hari ini bukan hanya patung yang dihancurkan, tetapi manusia yang terus kehilangan rumah, keluarga, dan masa depan di tengah dunia yang terlalu sering terlambat menunjukkan keberpihakan pada kemanusiaan. (nun/avi)