Keterlaluan, Israel Mau Usir Warga Palestina dari Gaza karena Main Layangan
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam ancaman Israel untuk mengusir warga Palestina dari sejumlah wilayah di Jalur Gaza setelah muncul aktivitas anak-anak menerbangkan layang-layang. PBB menilai ancaman tersebut tidak dapat dibenarkan, terutama karena aktivitas yang dipersoalkan melibatkan anak-anak.
Juru bicara kantor hak asasi manusia PBB, Ravina Shamdasani, menyampaikan kecaman itu kepada wartawan pada Selasa (25/8/2026). Ia menanggapi peringatan Israel yang menyatakan akan mengintensifkan operasi militer apabila peluncuran layang-layang, drone, atau balon dari Gaza terus berlangsung.
“Mengenai ancaman pengusiran karena anak-anak menerbangkan layang-layang, saya harap kita semua sepakat bahwa ini sangat keterlaluan,” kata Shamdasani dikutip Aljazeera.
Peringatan Israel disampaikan pada Minggu oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz. Keduanya menyatakan bahwa jika peluncuran ke arah Israel tidak segera dihentikan, pasukan Israel akan meningkatkan operasi terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab. Pernyataan bersama itu juga menyebut kemungkinan evakuasi penduduk dari wilayah tempat layang-layang, drone, dan balon diluncurkan.
Beberapa layang-layang yang dimainkan anak anak dilaporkan terbang ke permukiman Israel selatan selama bulan sebelumnya. Peristiwa tersebut kembali mengingatkan pada penggunaan layang-layang dan balon pembakar dari Gaza pada 2018, yang oleh warga Palestina disebut sebagai bentuk protes terhadap blokade Israel atas wilayah tersebut.
Ancaman tersebut kemudian mendorong Komite rakyat Gaza, yang berkoordinasi dengan otoritas Hamas, meminta para orang tua melarang anak-anak menerbangkan layang-layang demi keselamatan mereka.
Umm Mohammed, seorang ibu di Kota Gaza, mengatakan kepada Reuters bahwa anaknya, Ahmed, dan anak-anak lain biasanya menerbangkan layang-layang setiap musim panas sebagai hiburan. Namun, situasi yang berkembang membuatnya tidak lagi mengizinkan sang anak melakukan aktivitas tersebut.
Di sisi lain, Basem Naim, anggota biro politik Hamas, menolak peringatan Israel. Ia mempertanyakan penggambaran aktivitas anak-anak yang tidak bersenjata sebagai kegiatan yang layak ditanggapi dengan ancaman militer. (nun/avi)