Peringatan PBB tentang Lonjakan Pengungsian Warga Palestina di Tepi Barat pada 2026
13 Mar 2026
0 Suka
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu, 11 Maret 2026, memperingatkan bahwa lebih dari 1.500 warga Palestina telah mengungsi di wilayah Tepi Barat yang diduduki sejak awal tahun 2026.
Angka tersebut disebut telah mencapai sekitar 90 persen dari total jumlah pengungsian yang tercatat sepanjang tahun 2025. Informasi ini disampaikan dalam konferensi pers oleh juru bicara PBB Stéphane Dujarric, sebagaimana dilaporkan kantor berita Anadolu Agency.
Menurut Dujarric, data tersebut merujuk pada catatan terbaru dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA). Ia menjelaskan bahwa peningkatan jumlah warga yang meninggalkan rumah dan komunitasnya berkaitan dengan berbagai insiden di wilayah Tepi Barat yang diduduki. OCHA mencatat bahwa perkembangan terbaru menunjukkan lebih dari 180 warga Palestina terpaksa mengungsi akibat serangan pemukim serta pembatasan akses yang terjadi di berbagai wilayah.
Dujarric menyatakan bahwa akumulasi kejadian tersebut membawa jumlah total warga Palestina yang mengungsi sejak awal tahun 2026 menjadi lebih dari 1.500 orang. Angka itu disebut telah mendekati keseluruhan jumlah pengungsian yang tercatat sepanjang tahun sebelumnya. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pengarahan pers harian PBB dan dilaporkan oleh Anadolu Agency serta Middle East Monitor.
PBB juga menyampaikan bahwa pembatasan pergerakan yang diberlakukan oleh pasukan keamanan Israel memengaruhi akses warga Palestina menuju tempat kerja dan layanan dasar. Dalam keterangan yang sama, Dujarric mengatakan bahwa berbagai pembatasan tersebut menghambat mobilitas antara kota serta menyebabkan sejumlah pintu gerbang besi di pintu masuk desa tetap tertutup.
Data OCHA juga menunjukkan bahwa lebih dari 40 persen dari warga Palestina yang mengungsi pada awal 2026 merupakan anak-anak. Lembaga tersebut menambahkan bahwa kondisi pengungsian meningkatkan ketergantungan keluarga pada bantuan kemanusiaan serta sering kali disertai kehilangan sumber penghidupan.
OCHA kembali menyerukan perlindungan bagi warga Palestina di Tepi Barat serta menekankan pentingnya pertanggungjawaban terhadap pelaku kekerasan, sebagaimana dikutip dalam laporan Anadolu Agency. (nun/avi)