Warga Palestina Kembali Jadi Korban Serangan Fajar di Selatan Hebron
10 Jul 2026
0 Suka
Kekerasan yang melibatkan pemukim Israel di wilayah Tepi Barat yang diduduki kembali memakan korban. Pada Jumat pagi (10/7/2026) waktu setempat, sekelompok pemukim dilaporkan menyerang warga Palestina di kawasan Hawara, Masafer Yatta, sebelah selatan Kegubernuran Hebron.
Dalam insiden tersebut, para pelaku disebut menyemprotkan gas merica (pepper spray) ke arah wajah warga dan memukul mereka menggunakan benda tumpul hingga menyebabkan sejumlah korban mengalami luka-luka.
Kantor berita Palestina WAFA melaporkan serangan terjadi pada waktu fajar ketika warga mulai beraktivitas di sekitar permukiman mereka. Sejumlah saksi mata mengatakan para pemukim datang secara berkelompok sebelum melakukan penyerangan terhadap warga sipil.
Tim medis dan warga setempat kemudian memberikan pertolongan kepada korban yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan gas merica serta luka akibat pemukulan.
Aktivis lokal di Masafer Yatta yang diwawancarai WAFA menyatakan bahwa kawasan tersebut dalam beberapa tahun terakhir berulang kali menjadi lokasi bentrokan dan serangan terhadap warga Palestina. Mereka menyebut insiden terbaru memperpanjang rangkaian kekerasan yang terjadi di komunitas-komunitas pedesaan di selatan Hebron.
Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), kekerasan oleh pemukim terhadap warga Palestina di Tepi Barat mencapai tingkat yang tinggi sejak 2023 dan terus menjadi perhatian sepanjang 2025 hingga 2026. OCHA mencatat ratusan insiden yang mengakibatkan korban luka, kerusakan rumah, lahan pertanian, kendaraan, serta gangguan terhadap mata pencaharian masyarakat Palestina.
Organisasi hak asasi manusia Israel, B'Tselem, juga berulang kali mendokumentasikan meningkatnya serangan terhadap komunitas Palestina di kawasan Masafer Yatta. Dalam berbagai laporannya, organisasi tersebut menyebut warga menghadapi ancaman terhadap tempat tinggal, lahan pertanian, serta akses terhadap sumber air dan penggembalaan.
Masafer Yatta sendiri merupakan kumpulan desa Palestina yang telah lama menjadi perhatian komunitas internasional. Pada 2022, Mahkamah Agung Israel mengizinkan pengosongan sebagian wilayah tersebut untuk kepentingan zona latihan militer, keputusan yang kemudian memicu kekhawatiran berbagai badan PBB mengenai potensi pemindahan paksa penduduk sipil.
Di tengah situasi keamanan yang belum stabil, masyarakat Palestina di Tepi Barat juga menghadapi tekanan ekonomi, keterbatasan akses layanan kesehatan, serta meningkatnya kebutuhan bantuan kemanusiaan. Program Pangan Dunia (WFP) dan berbagai badan PBB melaporkan bahwa banyak keluarga mengalami kerawanan pangan akibat terganggunya aktivitas pertanian dan mata pencaharian.
Berbagai lembaga internasional terus menyerukan perlindungan terhadap warga sipil sesuai hukum humaniter internasional serta penyelidikan atas setiap dugaan tindak kekerasan.
Dukungan terhadap bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Palestina tetap menjadi kebutuhan mendesak untuk membantu keluarga yang terdampak memperoleh akses terhadap pangan, layanan kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya di tengah krisis yang masih berlangsung. (nun/avi)