Di Tengah Krisis Pangan, Petani Gaza Bertahan Menjaga Tanah yang Tersisa
13 Jul 2026
0 Suka
Di tengah krisis pangan yang terus memburuk di Jalur Gaza, kisah para petani Palestina menjadi potret perjuangan mempertahankan kehidupan di bawah tekanan pendudukan yang berkepanjangan.
Kerusakan lahan pertanian, keterbatasan air, kelangkaan benih, pupuk, serta rusaknya jaringan irigasi telah mempersempit kemampuan masyarakat memproduksi pangan secara mandiri. Namun, di balik kondisi tersebut, masih ada petani yang memilih tetap mengolah tanah sebagai bentuk keteguhan mempertahankan kehidupan.
Salah satunya adalah Abu Mohammed, seorang petani Palestina yang tetap menanami lahannya meski menghadapi berbagai keterbatasan. Dalam kesaksiannya yang dimuat sejumlah media internasional, ia mengatakan bahwa bertani bukan sekadar pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Pertanian bukan hanya sumber penghasilan. Ini adalah cara kami tetap terhubung dengan tanah kami,” ujarnya.
Kisah serupa juga disampaikan Abu Fares, petani asal Jalur Gaza yang diwawancarai Reuters. Ia menggambarkan bagaimana lahan pertanian yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan kini mengalami kerusakan akibat konflik.
Meski demikian, ia tetap berusaha menanam sayuran dengan memanfaatkan air yang tersedia dan benih yang masih dapat diperoleh. “Selama masih ada tanah yang bisa ditanami, kami akan terus bekerja,” tuturnya.
Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menunjukkan bahwa sebagian besar lahan pertanian produktif di Gaza mengalami kerusakan atau tidak dapat diakses akibat konflik karena pendudukan yang berkepanjangan. Fasilitas penyimpanan hasil panen, rumah kaca, jaringan irigasi, dan peternakan juga terdampak sehingga produksi pangan lokal menurun tajam. Kondisi tersebut diperburuk oleh terbatasnya pasokan benih, pupuk, bahan bakar, dan air bersih yang dibutuhkan untuk kegiatan pertanian.
Program Pangan Dunia (WFP) dan Integrated Food Security Phase Classification (IPC) dalam laporan terbarunya menempatkan Gaza sebagai salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan pangan paling tinggi di dunia. Jutaan warga bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, sementara risiko malnutrisi terus meningkat, terutama di kalangan anak-anak, ibu hamil, dan lansia.
Di tengah situasi itu, para petani seperti Abu Mohammed dan Abu Fares tetap berupaya mempertahankan lahan mereka. Bagi mereka, setiap tanaman yang tumbuh bukan hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menjadi simbol keteguhan menjaga hubungan dengan tanah yang telah diwariskan kepada keluarga mereka selama bertahun-tahun.
Berbagai kesempatan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa terus menyerukan peningkatan akses bantuan kemanusiaan, perlindungan terhadap infrastruktur sipil, serta pemulihan sektor pertanian agar masyarakat Gaza dapat kembali memproduksi pangan secara mandiri.
Dukungan terhadap program bantuan pangan, pemulihan pertanian, penyediaan benih, pupuk, air bersih, dan bantuan bagi petani menjadi bagian penting dari upaya mengurangi ancaman kelaparan yang masih membayangi jutaan warga Palestina.
Setiap bentuk solidaritas kemanusiaan yang diberikan akan membantu menjaga keberlangsungan hidup masyarakat sipil sekaligus memperkuat harapan agar mereka dapat kembali membangun kehidupan yang layak di tanah mereka sendiri. (nun/avi)