Minim Alat Berat Hambat Evakuasi Jenazah Korban di Gaza
04 Jul 2026
0 Suka
Seorang warga lanjut usia Palestina, Yusuf Al-Zaharneh, mengisahkan kesulitan yang dialaminya saat berusaha memakamkan anggota keluarganya di Jalur Gaza. Di tengah kerusakan infrastruktur yang meluas, minimnya alat berat untuk mengevakuasi reruntuhan bangunan disebut tidak hanya memperlambat proses pencarian dan pemindahan jenazah, tetapi juga memperpanjang duka keluarga korban yang menunggu kepastian nasib orang-orang tercinta.
Dalam kesaksiannya yang dikutip Anadolu Agnency dan sejumlah media internasional serta lembaga kemanusiaan, Al-Zaharneh mengenang kembali detik-detik ketika rumah keluarganya hancur akibat serangan selama konflik di Gaza.
Ia menuturkan bahwa keterbatasan ekskavator, buldoser, dan peralatan evakuasi menyebabkan proses pencarian korban berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal. “Kami harus menunggu sangat lama untuk mengeluarkan jenazah keluarga kami dari bawah reruntuhan,” ujarnya.
Berbagai badan Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa kerusakan infrastruktur sipil di Gaza telah memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mencatat banyak jalan utama, kawasan permukiman, serta fasilitas publik mengalami kerusakan berat sehingga menghambat mobilitas tim penyelamat dan distribusi bantuan kemanusiaan.
Komite Palang Merah Internasional (ICRC) juga berulang kali menyatakan bahwa keterlambatan evakuasi korban dapat terjadi ketika akses menuju lokasi terdampak terbatas atau peralatan penyelamatan tidak tersedia dalam jumlah yang memadai. Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa sistem kesehatan Gaza terus menghadapi tekanan akibat tingginya jumlah korban dan kerusakan fasilitas medis.
Kebutuhan masyarakat Gaza tidak hanya terbatas pada layanan kesehatan darurat, tetapi juga mencakup pemenuhan kebutuhan pangan bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan. Menjawab kebutuhan itu, Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI) menggulirkan Program Makan Bergizi Gaza (MBG) yang menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak, keluarga pengungsi, lansia, dan kelompok rentan di berbagai titik distribusi bantuan.
Laporan berbagai badan PBB menunjukkan bahwa jutaan warga Gaza masih bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Dukungan terhadap program kemanusiaan seperti MBG menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata untuk membantu masyarakat mempertahankan akses terhadap pangan bergizi di tengah krisis yang berkepanjangan. Setiap bantuan yang disalurkan tidak hanya memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, tetapi juga memperkuat solidaritas kemanusiaan bagi keluarga-keluarga yang masih berjuang menjalani kehidupan di tengah situasi darurat. (nun/avi)