Data UNCTAD PBB Sebut Akses Warga Palestina terhadap Lahan Terus Menyusut
Akses warga Palestina terhadap lahan dan sumber daya alam di Tepi Barat terus berkurang di tengah perluasan permukiman. Laporan terbaru Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) mencatat 38 komunitas telah dikosongkan dari penduduk Palestina sejak 2023, sementara jumlah pengungsian pada kuartal pertama 2026 telah melampaui total yang tercatat sepanjang 2025.
Temuan tersebut tercantum dalam laporan UNCTAD mengenai perkembangan ekonomi Wilayah Pendudukan Palestina yang dipresentasikan dalam sesi ke-73 Dewan Perdagangan dan Pembangunan UNCTAD pada September 2026.
Dikutip Aljazeera, laporan itu mendokumentasikan meningkatnya tekanan ekonomi dan sosial, termasuk berkurangnya akses terhadap lahan serta sumber daya alam di Tepi Barat yang berkaitan dengan perluasan permukiman.
Angka pengungsian pada awal 2026 menjadi salah satu indikator penting dalam laporan tersebut. UNCTAD menyebut jumlah warga yang mengungsi hanya dalam tiga bulan pertama tahun ini sudah lebih besar dibandingkan akumulasi pengungsian selama 2025. Pada saat yang sama, sebanyak 38 komunitas telah kehilangan penduduk Palestina sejak 2023.
Perkembangan tersebut menjadi bagian dari gambaran yang lebih luas mengenai tekanan ekonomi di Wilayah Pendudukan Palestina. UNCTAD mencatat perekonomian Palestina masih berada di bawah tingkat sebelum perang, sementara ratusan ribu pekerjaan telah hilang sejak Oktober 2023 dan pendapatan tenaga kerja kumulatif yang hilang diperkirakan mencapai 2,8 miliar dolar AS.
Di Gaza, kerusakan ekonomi juga berlangsung dalam skala besar. Sekitar 92 persen lembaga ekonomi dilaporkan rusak atau hancur sejak Oktober 2023. Kebutuhan pemulihan dan rekonstruksi Gaza diperkirakan mencapai 71,5 miliar dolar AS, dengan kerusakan infrastruktur fisik mencapai 35,2 miliar dolar AS dan kerugian ekonomi serta sosial sebesar 22,7 miliar dolar AS.
Laporan UNCTAD menyebut perumahan menjadi sektor dengan kerusakan dan kebutuhan rekonstruksi terbesar. Lebih dari separuh rumah sakit dan klinik layanan kesehatan dasar tidak berfungsi, sedangkan kurang dari 1,5 persen lahan pertanian Gaza masih dapat diakses dan tidak mengalami kerusakan.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan warga Palestina tidak hanya berkaitan dengan pemulihan ekonomi dan tempat tinggal, tetapi juga pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari. Dukungan terhadap bantuan bahan pokok, termasuk melalui program yang digulirkan Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI), menjadi salah satu bentuk kepedulian kemanusiaan yang dapat diarahkan kepada masyarakat Palestina yang terdampak. (nun/avi)