Dewan Gereja Sedunia Desak Perlindungan bagi Warga Kristen dan Non-Yahudi di Palestina
03 May 2026
0 Suka
Dewan Gereja Sedunia atau World Council of Churches menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya kekerasan terhadap warga Kristen dan kelompok non-Yahudi di wilayah yang dikuasai Israel. Dalam berbagai pernyataan dan laporan yang dipublikasikan sepanjang 2026, organisasi gereja global tersebut menilai rangkaian serangan, intimidasi, dan pelecehan terhadap komunitas Kristen tidak lagi dapat dipandang sebagai insiden terpisah atau kesalahpahaman individual, melainkan menunjukkan pola yang sistematis dan terorganisasi.
Keprihatinan tersebut menguat setelah sejumlah insiden penyerangan terhadap tokoh dan simbol keagamaan Kristen terjadi di Yerusalem dan wilayah Tepi Barat. Dalam laporan yang dikutip berbagai media internasional, termasuk Counter Currents dan The Guardian, sejumlah pemimpin gereja menyebut kelompok ekstremis Yahudi dan pemukim Israel terlibat dalam tindakan intimidasi terhadap pendeta, biarawati, jemaat gereja, hingga properti keagamaan Kristen.
Wakil komunitas gereja di Yerusalem, Dimitri Daher, yang pernyataannya mengatakan bahwa kekerasan tersebut menunjukkan pola yang terstruktur. “Ini bukan lagi tindakan individu atau orang tidak waras. Ada pendekatan yang terorganisasi untuk menekan keberadaan non-Yahudi di Yerusalem,” ujarnya dalam pernyataan yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
Dewan Gereja Sedunia juga menyoroti peningkatan tajam jumlah serangan terhadap komunitas Kristen sepanjang 2025 hingga awal 2026. Berdasarkan data yang dirujuk organisasi tersebut, tercatat sekitar 187 insiden kekerasan dan intimidasi terhadap warga Kristen dan properti gereja selama 2025. Angka itu disebut sebagai salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Laporan tahunan Rossing Center for Education and Dialogue yang turut dikutip media internasional mencatat peningkatan kasus pelecehan verbal, peludahan terhadap rohaniwan, vandalisme gereja, pelemparan batu, hingga pembatasan akses ibadah di Yerusalem. Data tersebut memperlihatkan kenaikan insiden dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Dalam pernyataan resmi sebelumnya, Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Sedunia, Rev. Prof. Dr. Jerry Pillay, juga mengecam kekerasan terhadap umat Kristen di Yerusalem. “Kami mengecam serangan terhadap umat Kristen dan siapa pun yang menjalankan hak kebebasan beragama di Tanah Suci,” katanya. Ia menegaskan bahwa Yerusalem merupakan kota suci bersama bagi Yahudi, Kristen, dan Muslim yang harus menghormati hak seluruh komunitas.
Sementara itu, laporan The Guardian pada April 2026 menggambarkan meningkatnya tekanan terhadap komunitas Kristen Palestina di Tepi Barat akibat ekspansi permukiman dan kekerasan pemukim. Sejumlah pemimpin gereja lokal menyebut situasi tersebut membuat banyak keluarga Kristen meninggalkan wilayah mereka karena alasan keamanan dan tekanan sosial-ekonomi.
Di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, pernyataan Dewan Gereja Sedunia menjadi bagian dari seruan internasional yang meminta perlindungan terhadap komunitas sipil dan penghormatan terhadap kebebasan beragama di wilayah konflik. (nun/avi)