Ketika Perempuan dan Anak Palestina Menanggung Beban Terberat Perang
02 Apr 2026
0 Suka
Pendudukan dan renteten serangan dari militer Israel yang berkepanjangan di Palestina, khususnya Jalur Gaza, terus meninggalkan dampak kemanusiaan yang sangat berat bagi kelompok paling rentan: perempuan dan anak-anak. Berbagai laporan lembaga internasional menunjukkan bahwa mereka menjadi korban terbesar dari eskalasi militer yang berlangsung sejak Oktober 2023 hingga sekarang.
Data terbaru menunjukkan besarnya skala tragedi kemanusiaan tersebut. Studi yang dirujuk berbagai laporan internasional menyebutkan lebih dari 75 ribu orang telah terbunuh dalam konflik Gaza sejak perang meletus pada 2023, sebagian besar merupakan warga sipil. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Global Health bahkan menunjukkan jumlah korban dapat jauh lebih tinggi dari angka yang dilaporkan sebelumnya.
Di antara korban tersebut, perempuan dan anak-anak menempati proporsi terbesar. Kantor Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebutkan hampir 70 persen korban jiwa yang terverifikasi dalam konflik Gaza adalah perempuan dan anak-anak, menggambarkan secara jelas bagaimana perang modern sering kali menimpa kelompok sipil yang paling tidak terlindungi.
Laporan UN Women memperkirakan lebih dari 28.000 perempuan dan anak perempuan telah terbunuh sejak awal konflik pada Oktober 2023. Lembaga tersebut mencatat bahwa angka itu berarti rata-rata satu perempuan atau anak perempuan terbunuh setiap jam selama periode konflik berlangsung. Banyak di antara mereka adalah ibu yang meninggalkan anak-anak dalam kondisi kehilangan dan trauma mendalam.
Situasi anak-anak Palestina tidak kalah mengkhawatirkan. UNICEF melaporkan lebih dari 50.000 anak di Gaza telah terbunuh atau terluka akibat perang. Selain korban jiwa dan luka-luka, jutaan anak juga menghadapi dampak psikologis berat akibat kehilangan anggota keluarga, rumah yang hancur, serta pengalaman hidup di tengah serangan militer yang terus berlangsung.
Organisasi kemanusiaan internasional juga mencatat bahwa krisis ini tidak hanya berupa korban langsung, tetapi juga menyangkut kelangsungan hidup jangka panjang. Kerusakan infrastruktur kesehatan, air bersih, dan pangan memperparah kerentanan perempuan dan anak. UNICEF memperkirakan sekitar 3,3 juta warga Palestina kini membutuhkan bantuan kemanusiaan mendesak akibat dampak konflik dan kerusakan sistem layanan dasar.
Dalam situasi kemanusiaan yang kompleks tersebut, peran solidaritas global menjadi faktor penting untuk menjaga ketahanan masyarakat Palestina. Dukungan tidak hanya datang dari lembaga internasional, tetapi juga dari berbagai organisasi sosial masyarakat di berbagai negara.
Lembaga kemanusiaan seperti Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI), misalnya, berupaya memperkuat solidaritas masyarakat Indonesia terhadap Palestina melalui berbagai program bantuan kemanusiaan. Dukungan tersebut mencakup penggalangan dana, distribusi bantuan darurat, serta kampanye kepedulian yang mendorong masyarakat luas untuk ikut membantu meringankan penderitaan warga Gaza.
Selain bantuan material, dukungan moral dan doa juga menjadi bagian penting dari solidaritas kemanusiaan tersebut. Dalam banyak situasi konflik berkepanjangan, dukungan psikososial dan jaringan solidaritas global terbukti membantu masyarakat yang terdampak untuk bertahan di tengah tekanan yang sangat berat.
Tragedi kemanusiaan yang dialami perempuan dan anak Palestina hari ini menjadi pengingat bahwa konflik bersenjata selalu meninggalkan jejak luka yang panjang bagi generasi masa depan. Di tengah keterbatasan dan penderitaan yang mereka hadapi, kehadiran solidaritas kemanusiaan dari berbagai penjuru dunia tetap menjadi harapan yang membantu mereka bertahan menjalani kehidupan sehari-hari. (nun/avi)