Serangan Artileri Militer Pendudukan di Kamp Pengungsi Gaza Tewaskan Ibu dan Anak
11 Mar 2026
0 Suka
Keluarga kecil Nour Al-Shalalfah kehilangan seorang ibu yang selama berbulan-bulan berjuang mempertahankan keluarganya di tenda pengungsian, sementara Salsabeel Faraj, bocah berusia 12 tahun, menjadi korban termuda dalam serangan artileri pasukan militer pendudukan yang menghantam kawasan pengungsi di Jalur Gaza tengah. Insiden tersebut terjadi pada Minggu malam di wilayah Al-Sawarha, sebelah barat Al-Zawayda, dan menewaskan tiga warga Palestina, termasuk seorang jurnalis perempuan.
Sumber medis Palestina menyebutkan bahwa korban yang meninggal adalah Nour Saleh Al-Shalalfah (30), Salsabeel Anwar Faraj (12), dan Amal Muhammad Shamali (46), seorang jurnalis yang selama konflik dilaporkan aktif meliput kondisi warga sipil.
Serangan tersebut terjadi menjelang tengah malam dan mengenai area tenda yang dihuni keluarga-keluarga yang sebelumnya kehilangan rumah akibat pemboman. Sepuluh orang lainnya mengalami luka-luka dan dibawa ke Rumah Sakit Al-Awda di Nuseirat untuk perawatan.
Kematian Amal Shamali menambah jumlah jurnalis yang tewas selama konflik di Gaza. Laporan organisasi Committee to Protect Journalists menyebut lebih dari 100 jurnalis telah terbunuh sejak perang Gaza dimulai pada Oktober 2023, menjadikannya salah satu periode paling mematikan bagi pekerja media di dunia.
Serangan tersebut terjadi di tengah laporan berulang tentang pelanggaran gencatan senjata yang diumumkan pada Oktober 2025. Reuters melaporkan bahwa bentrokan sporadis, serangan udara, dan penembakan artileri masih terus terjadi di berbagai wilayah Gaza meskipun ada upaya diplomasi untuk mempertahankan kesepakatan tersebut.
Menurut data yang dikutip oleh media internasional termasuk Reuters dan Al Jazeera, korban sipil di Gaza terus meningkat selama konflik yang berlangsung sejak 2023. Otoritas kesehatan setempat melaporkan puluhan ribu korban tewas, dengan sebagian besar korban merupakan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
Serangan terhadap kawasan pengungsian juga memicu kekhawatiran organisasi kemanusiaan. Perserikatan Bangsa-Bangsa sebelumnya memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk Gaza telah mengungsi secara internal dan banyak yang tinggal di tempat penampungan sementara yang rentan terhadap serangan dan kekurangan layanan dasar.
Insiden di Al-Sawarha menambah daftar panjang tragedi di wilayah tersebut, di mana ribuan keluarga pengungsi terus hidup di tenda-tenda sementara sambil menghadapi ketidakpastian keamanan dan kondisi kemanusiaan yang sulit. (nun/avi)