Hubungi Kami
Palestina Terkini

Serang Pemukiman, Israel Tewaskan 14 Warga Sipil Gaza Termasuk 5 Anak-anak

09 Jan 2026 0 Suka
Serang Pemukiman, Israel Tewaskan 14 Warga Sipil Gaza Termasuk 5 Anak-anak
Berita tentang Gaza kembali datang bukan sebagai kabar jeda, melainkan sebagai pengingat bahwa kekerasan tidak pernah benar-benar berhenti. Di tengah gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat dan mulai berlaku pada 10 Oktober, serangan militer Israel tetap berlanjut dan kembali merenggut nyawa warga sipil Palestina. Pada Kamis itu (8/1/2025), sedikitnya 14 orang tewas, termasuk lima anak-anak. Angka ini adalah potret rapuhnya perlindungan kemanusiaan di wilayah yang telah lama terkepung. Serangan tersebut terjadi di berbagai titik. Tenda-tenda pengungsi di kawasan al-Mawasi, Khan Yunis, Gaza selatan, menjadi sasaran dan menewaskan sedikitnya empat warga sipil. Di lingkungan Zeitoun, Kota Gaza, empat orang lainnya kehilangan nyawa. Wilayah Bureij dan Nuseirat di Gaza tengah juga dibombardir. Di Gaza utara, di Jabalia, seorang anak perempuan berusia 11 tahun, Hamsa Housou, tewas akibat tembakan. Kesaksian pamannya, Khamis Housou, menggambarkan duka yang telanjang: ia terbangun oleh teriakan, lalu menemukan Hamsa tergeletak tak bernyawa, darah mengalir dari hidung dan mulutnya. Dalam konflik berkepanjangan, kematian anak-anak selalu menjadi penanda paling memilukan tentang runtuhnya nilai-nilai kemanusiaan. Front Populer untuk Pembebasan Palestina menyebut serangan-serangan itu sebagai kejahatan perang, mencerminkan upaya sistematis untuk menjadikan Gaza tidak layak huni. Pernyataan tersebut berkelindan dengan data resmi Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza yang mencatat sedikitnya 425 orang tewas dan 1.206 lainnya terluka sejak 11 Oktober. Angka-angka ini menunjukkan bahwa gencatan senjata, alih-alih menghentikan kekerasan, hanya menjadi jeda semu yang rapuh. Di sisi lain, krisis kemanusiaan kian memburuk. Ratusan ribu keluarga terpaksa berlindung di kamp-kamp tenda darurat setelah rumah mereka hancur. Musim dingin memperparah penderitaan. Hujan lebat menyebabkan banjir di kamp-kamp pengungsian, memicu kebutuhan mendesak akan tenda yang layak, selimut, dan pakaian hangat. Namun, pasokan tersebut tidak mengalir bebas. Israel menolak membuka akses penuh bagi perlengkapan tempat tinggal, meskipun peringatan keras telah disampaikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi kemanusiaan internasional. Dampak kesehatan dari kondisi hidup yang keras itu semakin nyata. Dokter Tanpa Batas melaporkan peningkatan infeksi pernapasan, komplikasi luka, serta penyakit kulit. Bayi-bayi mengalami kedinginan parah akibat minimnya perlindungan dasar. Kondisi ini bukan sekadar akibat cuaca; ia merupakan konsekuensi langsung dari pembatasan bantuan dan penghancuran infrastruktur sipil. Ironisnya, upaya pertolongan justru dihambat. Otoritas Israel mencabut izin operasional 37 organisasi bantuan dengan alasan kepatuhan terhadap peraturan baru yang menuntut data rinci staf, pendanaan, dan operasional. Para ahli menilai persyaratan ini bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan dan menjadi bagian dari pola lama untuk melemahkan kerja bantuan internasional. Laporan terbaru menyebutkan bahwa beberapa organisasi besar ditolak memasuki Gaza, memaksa mereka menghentikan layanan esensial, termasuk layanan kesehatan. Konsekuensinya jelas: nyawa warga sipil semakin terancam. Esai ini bukan sekadar pengulangan kabar duka. Ia adalah upaya menempatkan angka dan peristiwa dalam bingkai kemanusiaan. Gaza hari ini memperlihatkan bagaimana kekerasan, pembatasan bantuan, dan ketidakpatuhan pada gencatan senjata bersatu membentuk krisis multidimensi. Anak-anak seperti Hamsa Housou menjadi simbol paling menyayat dari kegagalan dunia melindungi yang paling rentan. Dalam konteks ini, solidaritas internasional dan perlindungan kemanusiaan bukanlah pilihan moral tambahan, melainkan kewajiban yang mendesak. (nun/avi)

Berita Terkait

Anak-Anak Palestina Alami Tekanan dalam Penahanan di Bawah Pendudukan
Palestina Terkini

Anak-Anak Palestina Alami Tekanan dalam Penahanan di Bawah Pendudukan

Pusat Pembelaan Tahanan Palestina menyampaikan bahwa anak-anak Palestina yang ditahan menghadapi met...

30 Jan 2026
0
Baca Selengkapnya
Serangan Tentara Pendudukan Israel Ancam Kristen Bersejarah Palestina
Palestina Terkini

Serangan Tentara Pendudukan Israel Ancam Kristen Bersejarah Palestina

Uskup Dr. Imad Haddad dari Gereja Lutheran Injili di Yordania dan Tanah Suci mengatakan komunitas me...

29 Jan 2026
0
Baca Selengkapnya
Kesaksian Pengacara Ungkap Perlakuan Keji Tentara Pendudukan terhadap Tawanan Perempuan Palestina
Palestina Terkini

Kesaksian Pengacara Ungkap Perlakuan Keji Tentara Pendudukan terhadap Tawanan Perempuan Palestina

Pengacara Hassan Abbadi menyampaikan keterangan mengenai perlakuan yang dialami seorang tawanan pere...

28 Jan 2026
0
Baca Selengkapnya