Palestina Terkini
Gaza dalam Darurat Kemanusiaan, Ribuan Ibu dan Bayi Terjebak Lingkaran Malnutrisi
11 Dec 2025
0 Suka
Temuan terbaru Badan PBB untuk anak-anak (UNICEF) kembali menyoroti dampak serius pendudukan Israel terhadap kelangsungan hidup bayi dan kesehatan ibu di Palestina. Organisasi tersebut melaporkan bahwa bayi dengan berat lahir rendah memiliki risiko kematian sekitar 20 kali lebih tinggi dibandingkan bayi dengan berat normal.
UNICEF menegaskan bahwa sebelum agresi genosida “Israel” pada tahun 2022, Gaza mencatat rata-rata 250 kelahiran per bulan dengan berat kurang dari 2,5 kilogram—sekitar lima persen dari total kelahiran—berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza.
Pengantar data itu menjadi penting ketika UNICEF mengumumkan, pada 9 Desember 2025, bahwa bayi-bayi Gaza telah mengalami dampak perang bahkan sebelum mereka menghirup napas pertama.
Dalam keterangannya kepada wartawan di Jenewa melalui sambungan video, Manajer Komunikasi UNICEF Tess Ingram menggambarkan kondisi tersebut sebagai situasi yang mengakibatkan kematian menyakitkan dan dapat dicegah, dengan sedikitnya 165 anak dilaporkan meninggal akibat malnutrisi selama agresi yang berlangsung.
Sejak Oktober 2023, serangan militer “Israel” di Jalur Gaza menewaskan 70.366 warga Palestina dan melukai 171.064 lainnya. Ingram menekankan bahwa di luar angka tersebut, terdapat ancaman lain yang kurang terlihat: kelaparan akut pada perempuan hamil dan menyusui serta dampaknya pada ribuan bayi baru lahir.
Ia menyampaikan bahwa sejumlah bayi di rumah sakit Gaza lahir dengan berat kurang dari satu kilogram, berjuang mempertahankan hidup dengan dada yang terengah-engah.
UNICEF mencatat bahwa kemerosotan kondisi gizi ibu telah mendorong lonjakan kelahiran dengan berat badan rendah. Pada paruh pertama 2025, proporsinya meningkat menjadi 10 persen dari seluruh kelahiran, atau sekitar 300 bayi per bulan. Bahkan, dalam tiga bulan sebelum gencatan senjata, angka itu melonjak hingga 460 bayi per bulan—setara 15 kelahiran per hari—hampir dua kali lipat rata-rata sebelum perang.
Ingram menjelaskan bahwa berat lahir rendah umumnya dipicu oleh gizi buruk pada ibu, stres berkepanjangan, dan terbatasnya layanan antenatal. Ketiganya terjadi secara simultan di Gaza. Pada Oktober 2025 saja, tercatat 8.300 perempuan hamil dan menyusui dirawat karena kekurangan gizi akut, kondisi yang sebelumnya tidak ditemukan di kelompok tersebut sebelum Oktober 2023.
PBB merespons situasi ini dengan menyediakan peralatan vital seperti inkubator dan ventilator yang rusak akibat serangan. UNICEF turut menyalurkan suplemen gizi bagi puluhan ribu perempuan hamil dan menyusui, melakukan skrining gizi anak, serta memasukkan mereka ke dalam perawatan.
Namun, lembaga tersebut menekankan bahwa bantuan harus ditingkatkan, terutama pasokan makanan bergizi melalui jalur komersial untuk menurunkan harga dan menormalkan kembali ketersediaan pangan seperti buah, sayur, daging, dan produk susu.
Menurut Ingram, gencatan senjata dua bulan seharusnya memberikan ruang aman bagi keluarga. Namun, lebih dari 70 anak tetap tewas sejak gencatan dimulai pada 10 Oktober. Ia menggambarkan bahwa dampak konflik antar generasi tampak jelas di rumah sakit, klinik gizi, serta tenda pengungsian.
Efek domino dari kekurangan gizi, stres, dan pengungsian terhadap ibu dan bayi, menurutnya, merupakan situasi yang dapat dicegah.
Ia menutup penjelasannya dengan menyerukan penghormatan penuh terhadap hukum humaniter internasional sebagai langkah krusial untuk mencegah penderitaan lebih lanjut. (nun/avi)