Palestina Terkini
Gaza di Ambang Ecocide, Kontaminasi Meluas di Tengah Runtuhnya Infrastruktur
10 Dec 2025
0 Suka
Spektrum kerusakan lingkungan di Gaza muncul sebagai dimensi krisis yang tidak kalah genting dibandingkan kehancuran fisik dan kemanusiaan. Para pakar lingkungan sejak lama menekankan bahwa perang sering kali meninggalkan dampak berlapis yang memengaruhi ekosistem dan kesehatan masyarakat jauh melampaui periode serangan.
Pernyataan terbaru Otoritas Kualitas Lingkungan Palestina memperlihatkan skala ancaman ekologis yang berkembang cepat dan berpotensi menimbulkan risiko jangka panjang bagi penduduk, terutama anak-anak yang paling rentan terhadap paparan racun.
Otoritas memperingatkan adanya kebocoran besar-besaran bahan kimia, minyak, sel surya, baterai, dan asbes ke dalam tanah serta air permukaan. Menurut lembaga tersebut, kontaminasi ini mempercepat degradasi lingkungan sekaligus menimbulkan bahaya sistemik yang dapat mengganggu ekosistem lokal dan mengancam kesehatan masyarakat.
Peringatan ini disampaikan di tengah laporan mengenai lonjakan volume puing yang mencapai lebih dari 60 juta ton akibat penghancuran bangunan dan fasilitas selama agresi Israel, termasuk sekitar 4 juta ton limbah berbahaya, 50.000 ton asbes, dan hampir 100.000 ton bahan peledak maupun persenjataan yang belum meledak.
Data tersebut menunjukkan bahwa dampak perang tidak hanya berupa keruntuhan infrastruktur, tetapi juga pelepasan material beracun dalam jumlah masif. Ancaman bagi keselamatan jutaan warga Gaza meningkat karena sebagian besar kini hidup di tengah reruntuhan yang tercemar polutan yang dapat menimbulkan bahaya fatal.
Otoritas juga melaporkan bahwa 80 persen jaringan air dan pembuangan limbah hancur total, memicu pencemaran meluas pada akuifer pesisir yang selama ini menjadi sumber air bersih utama penduduk.
Kerusakan terhadap lebih dari 2.000 fasilitas industri menambah beban limbah kimia dan material berbahaya yang tidak dapat dikelola. Di tengah runtuhnya sistem layanan dasar, muncul pula lokasi pembuangan sampah ilegal di berbagai wilayah.
Setidaknya 700.000 ton limbah padat dilaporkan menumpuk tanpa mekanisme penanganan, beriringan dengan hancurnya tempat pembuangan akhir sanitasi serta instalasi pengolahan limbah medis. Pemindahan paksa penduduk dari Gaza utara ke wilayah tengah dan selatan turut menciptakan titik-titik pencemaran baru yang mengancam kesehatan publik.
Di sektor pesisir, Otoritas mencatat pencemaran limbah, sisa bahan peledak, dan limbah berbahaya lainnya hingga kedalaman mencapai 700–1.000 meter di laut. Bercak abu-abu dan hitam yang kini menutupi perairan Gaza telah mempersempit wilayah tangkap ikan yang menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga nelayan.
Tidak hanya itu, sekitar 3.700 dunam kawasan pantai rusak parah, sementara 50 persen Cagar Alam Wadi Gaza hilang akibat bombardemen dan invasi darat.
Sektor pertanian, yang merupakan fondasi ketahanan pangan Gaza, juga mengalami kerusakan mendalam. Polusi limbah, ledakan, dan pemadatan tanah oleh kendaraan militer diperkirakan menghancurkan 95 persen tanaman pertanian, 98 persen tanaman pohon, dan 89 persen panen tahunan di berbagai area.
Kerusakan ekologis berskala besar ini menuai kecaman internasional. Sejumlah negara dan pakar lingkungan menggolongkan dampak tersebut sebagai ecocide, mengingat luasnya kerusakan dan efek jangka panjangnya terhadap kehidupan sipil.
Seruan untuk melakukan penyelidikan internasional dan upaya mitigasi terus disampaikan, sementara warga Gaza menghadapi krisis lingkungan, kesehatan, dan kemanusiaan yang semakin kompleks. (nun/avi)