Penebangan Pohon Jeruk dan Lemon di Wadi Qana Perburuk Krisis Pangan Palestina
30 Jul 2026
0 Suka
Wadi Qana di Deir Istiya, barat laut Salfit, kembali menjadi sasaran penyerbuan pemukim Israel yang menebang lebih dari 20 pohon jeruk dan lemon milik warga Palestina. Insiden terbaru ini menambah panjang daftar serangan terhadap lahan pertanian di Tepi Barat yang diduduki, sekaligus memperlihatkan tekanan yang terus dihadapi para petani dalam mempertahankan sumber penghidupan mereka.
Kantor berita Palestina WAFA melaporkan bahwa puluhan pemukim memasuki kawasan Wadi Qana sebelum menebang sedikitnya 20 pohon jeruk dan lemon milik seorang petani Palestina bernama Salah Yousef Mansour. Pohon-pohon tersebut merupakan bagian dari kebun yang selama bertahun-tahun menjadi sumber hasil pertanian bagi keluarga pemiliknya.
Sumber-sumber lokal yang dikutip WAFA menyatakan, "Para pemukim memasuki kawasan Wadi Qana dan menebang sekitar 20 pohon jeruk dan lemon milik warga Palestina Salah Yousef Mansour." Peristiwa itu kembali terjadi di wilayah yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu kawasan pertanian paling subur di Kegubernuran Salfit.
Wadi Qana bukan nama baru dalam catatan konflik agraria di Tepi Barat. Berbagai laporan organisasi hak asasi manusia Palestina maupun internasional menunjukkan kawasan tersebut berulang kali menjadi lokasi perusakan lahan pertanian, penebangan pohon, penyerangan terhadap petani, hingga pembatasan akses menuju kebun. Rangkaian insiden tersebut terjadi di tengah keberadaan sejumlah permukiman Israel yang mengelilingi lembah tersebut.
Bagi masyarakat Palestina, pohon buah bukan sekadar aset ekonomi. Kebun jeruk, lemon, dan zaitun menjadi bagian dari sistem produksi pangan lokal yang menopang kehidupan banyak keluarga. Karena itu, setiap kerusakan terhadap lahan pertanian tidak hanya berdampak pada hilangnya hasil panen, tetapi juga mengurangi kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.
Kekhawatiran tersebut sejalan dengan berbagai peringatan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Program Pangan Dunia (WFP), Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), serta Integrated Food Security Phase Classification (IPC) berulang kali menegaskan bahwa konflik berkepanjangan, kerusakan lahan pertanian, dan terganggunya aktivitas ekonomi terus memperbesar ancaman kerawanan pangan di wilayah Palestina. Di Gaza, jutaan warga masih bergantung pada bantuan kemanusiaan, sementara di Tepi Barat tekanan terhadap sektor pertanian turut memengaruhi ketahanan pangan masyarakat.
Di tengah meningkatnya ancaman kelaparan dan keterbatasan akses pangan, setiap pohon yang hilang berarti berkurangnya sumber kehidupan bagi keluarga Palestina. Dukungan terhadap upaya kemanusiaan, pemulihan sektor pertanian, dan perlindungan warga sipil menjadi bagian penting dari ikhtiar menjaga hak masyarakat Palestina untuk hidup, bekerja, dan memenuhi kebutuhan pangannya secara bermartabat. (nun/avi)