Krisis Pangan Gaza Berlanjut, Bantuan Kemanusiaan Kian Mendesak
Perserikatan Bangsa-Bangsa menyerukan perlindungan terhadap warga sipil Palestina, tempat tinggal, harta benda, serta akses terhadap layanan dasar di tengah pembatasan dan kekerasan yang masih berlangsung di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Seruan tersebut disampaikan juru bicara PBB Stephane Dujarric pada Selasa (18/8/2026).
Dalam konferensi pers, Dujarric menyebut tim PBB telah menjangkau keluarga Palestina di Desa Qusra, Tepi Barat, setelah pembatasan mobilitas dan akses diberlakukan secara ketat.
Wakil Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Ramses Alakbarov, menekankan kebutuhan mendesak untuk memastikan keselamatan warga dan keberlangsungan layanan dasar.
Di Gaza, kebutuhan pangan masih menjadi perhatian utama. Reuters melaporkan pada Juli bahwa Program Pangan Dunia (WFP) membutuhkan lebih dari US$420 juta hingga akhir 2026 untuk mempertahankan bantuan.
WFP memperkirakan sekitar 1,4 juta orang, atau 67 persen penduduk Gaza, dapat menghadapi kelaparan akut pada Desember apabila dukungan kemanusiaan terus berkurang.
Associated Press juga melaporkan bahwa meskipun kondisi kelaparan di Gaza membaik setelah peningkatan akses bantuan, seluruh wilayah masih berada pada tingkat krisis pangan. Lebih dari 200.000 orang berada dalam kondisi darurat pangan, sementara lembaga kemanusiaan memperingatkan gangguan kecil terhadap akses bantuan dapat membalikkan kemajuan yang telah dicapai.
Dalam situasi tersebut, dukungan kemanusiaan untuk pemenuhan kebutuhan pangan tetap diperlukan. Masyarakat yang ingin berkontribusi dapat menyalurkan bantuan melalui lembaga kemanusiaan, termasuk Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI), agar dukungan pangan dapat diteruskan kepada warga Palestina yang membutuhkan.
Berdonasi di sini.