Dari Sampah hingga Air Tercemar, Gaza Menghadapi Bencana Berlapis
06 Apr 2026
0 Suka
JALUR Gaza saat ini menghadapi situasi yang oleh banyak lembaga internasional digambarkan sebagai krisis ganda: krisis kemanusiaan yang mendalam sekaligus krisis lingkungan yang mengancam keberlangsungan kehidupan masyarakat sipil. Kerusakan luas pada infrastruktur dasar serta keterbatasan akses terhadap energi, air, dan layanan publik membuat layanan kota di wilayah tersebut berada di ambang keruntuhan.
Data berbagai lembaga internasional menunjukkan skala kerusakan yang sangat besar. Sejak eskalasi konflik pada Oktober 2023, hampir 90 persen bangunan di Gaza dilaporkan mengalami kerusakan sebagian maupun total, sehingga mengganggu hampir seluruh fungsi layanan kota, termasuk sistem air bersih, sanitasi, listrik, dan pengelolaan limbah.
Kerusakan infrastruktur tersebut secara langsung berdampak pada sistem air dan sanitasi. Analisis terbaru menunjukkan sekitar 84,6 persen infrastruktur air, sanitasi, dan kebersihan (WASH) di Gaza mengalami kerusakan berat. Akibatnya, pasokan air bersih turun drastis hingga kurang dari 5 liter per orang per hari, jauh di bawah standar minimum darurat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Krisis ini juga diperparah oleh rusaknya instalasi pengolahan limbah. Laporan berbagai lembaga menyebutkan sebagian besar fasilitas pengolahan air limbah di Gaza tidak lagi berfungsi. Sebagian besar limbah domestik akhirnya mengalir tanpa pengolahan ke laut atau ke lingkungan sekitar permukiman, meningkatkan risiko pencemaran air tanah serta penyebaran penyakit menular.
Masalah lingkungan lainnya muncul dari akumulasi sampah dalam jumlah besar di berbagai wilayah kota. Perang dan keterbatasan bahan bakar membuat armada pengangkut sampah tidak dapat beroperasi secara normal. Kondisi ini menyebabkan sampah menumpuk di berbagai titik pemukiman dan kamp pengungsian. Beberapa laporan menyebutkan sekitar dua juta ton limbah tidak terkelola tersebar di wilayah Gaza, menimbulkan risiko kesehatan serius bagi masyarakat.
Situasi tersebut berdampak langsung pada kesehatan publik. Kementerian Kesehatan Gaza dan berbagai badan internasional mencatat peningkatan tajam penyakit menular akibat kondisi sanitasi yang buruk, air yang tercemar, serta kepadatan pengungsian. Laporan kemanusiaan mencatat lebih dari satu juta kasus penyakit infeksi telah dilaporkan di Gaza sejak sistem kesehatan dan sanitasi mengalami kerusakan luas.
Selain krisis sanitasi, keterbatasan energi juga memperparah kondisi layanan kota. Kekurangan bahan bakar diesel menghambat operasi sumur air, generator listrik, instalasi pengolahan limbah, hingga kendaraan pengangkut sampah. Akibatnya, banyak fasilitas publik tidak dapat beroperasi secara normal, mempercepat memburuknya kondisi lingkungan perkotaan di Gaza.
Dalam situasi seperti ini, krisis lingkungan dan kemanusiaan tidak lagi dapat dipisahkan. Kerusakan sistem layanan kota tidak hanya memperburuk kualitas lingkungan, tetapi juga secara langsung mengancam kesehatan dan keselamatan jutaan warga sipil yang sebagian besar kini hidup dalam kondisi pengungsian.
Di tengah keterbatasan tersebut, dukungan komunitas internasional dan jaringan solidaritas kemanusiaan menjadi sangat penting. Berbagai organisasi bantuan berupaya menyalurkan dukungan untuk pemulihan layanan dasar, termasuk penyediaan air bersih, sanitasi darurat, serta distribusi bantuan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak.
Dalam pada itu, lembaga swadaya seperti Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI) berupaya menggerakkan solidaritas publik melalui penggalangan dana kemanusiaan dan penyaluran bantuan bagi masyarakat Palestina. Dukungan tersebut dalam rangka untuk membantu meringankan beban warga Gaza yang menghadapi keterbatasan akses terhadap air bersih, makanan, layanan kesehatan, serta kebutuhan dasar lainnya.
Dalam konteks krisis yang semakin kompleks ini, keterlibatan masyarakat sipil global tetap menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keberlangsungan bantuan kemanusiaan.
Solidaritas lintas negara dan lembaga sosial menjadi bagian dari upaya bersama untuk membantu masyarakat Gaza bertahan di tengah keruntuhan layanan kota dan krisis lingkungan yang semakin mendalam. (nun/avi)