Hubungi Kami
Berita

Pejabat Keamanan Nasional AS Joseph Kent Mundur dan Kritik Kebijakan Perang Iran

18 Mar 2026 0 Suka
Pejabat Keamanan Nasional AS Joseph Kent Mundur dan Kritik Kebijakan Perang Iran
Direktur National Counterterrorism Center, Joseph Kent, mengundurkan diri dari jabatannya dan menyatakan bahwa keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran terjadi di tengah tekanan dari Israel serta pengaruh kuat lobi pro-Israel di Washington. Dalam surat pengunduran dirinya yang dipublikasikan Selasa (17/3/2026), Kent menyebut tidak dapat lagi mendukung operasi militer yang sedang berlangsung. “Saya tidak bisa dengan hati nurani mendukung perang yang sedang berlangsung di Iran. Iran tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap negara kita,” tulisnya. Kent memimpin lembaga yang berada di bawah Office of the Director of National Intelligence tersebut sejak Februari 2025. Lembaga ini bertugas mengoordinasikan berbagai badan intelijen Amerika Serikat terkait ancaman terorisme. Dalam suratnya, Kent juga menyatakan bahwa sejumlah narasi yang berkembang mengenai ancaman Iran dinilainya dipengaruhi oleh tekanan politik serta kampanye informasi yang memperkuat sentimen pro-perang. Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. BBC dalam berbagai laporan menyebut konflik di kawasan Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir memicu kekhawatiran global mengenai eskalasi militer yang lebih luas. Menanggapi pengunduran diri tersebut, Donald Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih bahwa ia tidak terlalu mengenal Kent secara dekat, tetapi menilai mantan pejabat tersebut “lemah dalam soal keamanan.” Trump juga menegaskan pandangannya bahwa Iran merupakan ancaman strategis bagi Amerika Serikat. “Iran adalah ancaman besar. Semua negara memahami ancaman itu,” ujarnya. Joseph Kent memiliki latar belakang militer panjang sebagai mantan anggota Army Rangers dengan sejumlah penugasan tempur sejak serangan 11 September 2001. Ia juga pernah bertugas sebagai perwira paramiliter di Central Intelligence Agency. Dalam suratnya, Kent menyinggung pengalaman pribadi yang memengaruhi pandangannya mengenai konflik bersenjata. Istrinya, Shannon Kent, seorang kriptolog Angkatan Laut Amerika Serikat, meninggal pada 2019 dalam serangan bom di Manbij, Suriah, saat bertugas dalam operasi melawan kelompok Islamic State. Kent menyatakan bahwa pengalaman tersebut membuatnya mempertimbangkan kembali konsekuensi perang bagi generasi berikutnya. Ia menulis bahwa dirinya tidak ingin konflik baru menyebabkan lebih banyak keluarga kehilangan anggota mereka di medan perang. (nun/avi)

Berita Terkait

Menebar Harapan di Dua Negeri, AVI Catat 6.119 Penerima Manfaat pada Mei 2026
Berita

Menebar Harapan di Dua Negeri, AVI Catat 6.119 Penerima Manfaat pada Mei 2026

Jejak Kebaikan AVI Edisi Mei 2026 meneguhkan komitmen berkelanjutan Al-Quds Volunteers Indonesia (AV...

15 Jun 2026
0
Baca Selengkapnya
Qurban sebagai Jalan Kebaikan bagi Mereka yang Terlupakan
Berita

Qurban sebagai Jalan Kebaikan bagi Mereka yang Terlupakan

KRISIS pangan global yang terus berlangsung menempatkan ratusan juta manusia dalam kondisi kelaparan...

14 Apr 2026
0
Baca Selengkapnya
Bom Israel ke Lebanon di Tengah Gencatan Senjata Bikin Dunia Geram
Berita

Bom Israel ke Lebanon di Tengah Gencatan Senjata Bikin Dunia Geram

Serangan militer Israel terhadap Lebanon beberapa waktu lalu menandai salah satu eskalasi paling taj...

09 Apr 2026
0
Baca Selengkapnya