Vikaris Patriarkat Latin Yerusalem Serukan Kepedulian terhadap Penderitaan Anak-Anak Gaza
18 Jul 2026
0 Suka
Vikaris Jenderal Patriarkat Latin Yerusalem, Uskup William Shomali, mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza yang menurutnya masih jauh dari pulih meskipun secara teori gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober 2025.
Dalam wawancara dengan Vatican News, Shomali mengatakan bahwa perhatian dunia terhadap Gaza mulai berkurang, sementara penderitaan warga sipil, terutama anak-anak, masih terus berlangsung.
Mengutip data Kementerian Kesehatan Gaza, Shomali menyebut lebih dari 1.000 warga Palestina, termasuk sedikitnya 265 anak-anak, dilaporkan tewas dalam sembilan bulan setelah gencatan senjata diberlakukan.
Sebanyak sekitar 3.400 orang lainnya mengalami luka-luka. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa data tersebut dinilai dapat dipercaya dan telah dimasukkan ke dalam laporan resmi PBB yang diterbitkan pada awal Juli 2026.
Menurut Shomali, ruang hidup masyarakat Gaza kini semakin menyempit. “Penduduk Gaza kini hanya berada di 47 persen wilayah Gaza karena Israel menguasai 53 persen sisanya,” ujarnya kepada Vatican News, Jum'at (17/7/2026). Kondisi itu, lanjutnya, menyebabkan kepadatan penduduk meningkat tajam di wilayah yang masih dapat dihuni.
Ia juga menggambarkan besarnya kerusakan infrastruktur yang masih membekas. “Delapan puluh persen infrastruktur masih hancur, bukan hanya bangunan, tetapi juga sistem air dan listrik. Banyak sekolah dan universitas sudah tidak ada lagi. Ribuan orang hidup di tenda-tenda,” katanya.
Mengenai bantuan kemanusiaan, Shomali menjelaskan bahwa sebagian obat-obatan memang telah memasuki Gaza, namun jenis dan jumlahnya belum mencukupi kebutuhan masyarakat.
Ia menambahkan bahwa pasokan makanan mulai kembali tersedia melalui para pedagang yang mengimpor barang dari Israel, meski distribusinya masih sangat terbatas.
Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, yang mengunjungi Gaza pada Juni 2026, menggambarkan pasar yang ada hanya berupa satu atau dua tenda sederhana yang menjual bahan makanan, jauh dari kondisi perdagangan yang normal.
Shomali menuturkan bahwa Patriarkat Latin kini menyalurkan bantuan dalam bentuk uang tunai kepada keluarga yang tidak memiliki penghasilan agar mereka dapat membeli kebutuhan pokok secara mandiri. Program tersebut dijalankan bagi keluarga yang tinggal di kompleks Paroki Latin Gaza.
Bagian yang paling menyentuh dari refleksi Shomali adalah kondisi anak-anak Gaza. “Anak-anak tidak memiliki kegiatan karena mereka tidak pergi ke sekolah. Mereka menghabiskan hari-hari mereka mengumpulkan kayu, paku, dan apa saja yang dapat digunakan kembali atau dijual,” ujarnya. (nun/avi)