Puluhan Delegasi Berteriak dan Mencemooh Saat Netanyahu Mulai Berpidato di PBB
Suasana di aula Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berubah ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu naik ke podium untuk menyampaikan pidatonya dalam sesi ke-80 Majelis Umum pada Kamis, 24 September 2026 waktu setempat.
Pidato pemimpin "negara" zionis tersebut diwarnai oleh aksi walk out (meninggalkan ruangan) secara massal oleh para delegasi dari 77 negara, termasuk Delegasi Indonesia sebagai bentuk protes terhadap tindakan Israel.
Sejumlah hadirin meninggalkan tempat duduk, sementara sebagian lainnya terdengar berteriak dan mencemooh ketika Netanyahu mulai berbicara.
Rekaman dari dalam ruang sidang memperlihatkan puluhan delegasi dan perwakilan berjalan keluar sebelum pidato Netanyahu dimulai. Sebagian delegasi lainnya tetap berada di tempat masing-masing ketika perdana menteri Israel tersebut menyampaikan pidatonya.
Aksi walkout dan reaksi keras dari sejumlah hadirin berlangsung dalam situasi ketika kebijakan Israel di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki menghadapi kritik internasional. Perang di Gaza serta kebijakan Israel terhadap wilayah Palestina menjadi salah satu isu yang terus mendapat perhatian dalam forum diplomatik internasional.
Sebelum Netanyahu berpidato, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam pidato pembukaan Sidang Majelis Umum ke-81 memperingatkan bahwa kekerasan, pengusiran warga, dan perluasan permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki merusak prospek perdamaian dan meningkatkan risiko pembersihan etnis.
"Kita tidak boleh membiarkan solusi dua negara menghilang di depan mata kita," kata Guterres. Ia juga menyebut situasi di wilayah Palestina yang diduduki tidak boleh diabaikan di tengah gejolak yang lebih luas di Timur Tengah.
Guterres mengatakan serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 merupakan tindakan mengerikan, tetapi setelah itu terjadi gempuran terhadap warga Palestina di Gaza dengan skala pembunuhan dan kehancuran yang menurutnya belum pernah ia saksikan selama bertahun-tahun menjabat sebagai Sekretaris Jenderal.
Ia turut mengingatkan tindakan sementara yang mengikat secara hukum dari Mahkamah Internasional dalam perkara terkait penerapan Konvensi Genosida di Gaza. Menurutnya, semua pihak harus mematuhi hukum internasional dan perintah pengadilan, sementara PBB serta personel kemanusiaannya harus dapat menjalankan mandat dan memperoleh perlindungan di Gaza.
Guterres juga menyerukan penghentian pertempuran, kelancaran bantuan kemanusiaan, serta pemulihan hak dan kebebasan navigasi sesuai hukum internasional. Dalam konteks tersebut, aksi walkout, teriakan, dan cemoohan saat Netanyahu memulai pidatonya menjadi bagian dari suasana diplomatik yang diwarnai penolakan terhadap kebijakan Israel dalam konflik Gaza dan Tepi Barat. (nun/avi)