Pilunya Hati Wanita Palestina Menjalani Tahun-Tahun Penuh Kehilangan
Tiga tahun terakhir membuat Nisreen Touman menjalani hidup dengan kesedihan yang terus membekas. Perempuan Palestina berusia 34 tahun itu kini mengaku lebih tertutup, lebih suka diam selama berjam-jam, dan memilih memusatkan perhatian pada putrinya, Sidra, setelah kehilangan suami dan anak-anaknya dalam perang di Gaza.
Nisreen dua kali menjadi janda. Pada 8 Juni 2024, ia kehilangan suami pertamanya, Sami, 35 tahun, serta dua anak mereka, Mahmoud dan Laith, masing-masing berusia lima dan dua tahun. Keluarga itu menjadi bagian dari 18 anggota keluarga besar suaminya yang tewas dalam serangan di Nuseirat.
Saat itu, Nisreen baru pulang bersama keluarganya setelah mengunjungi kerabat yang mengungsi di al-Mawasi. Suaminya keluar untuk membawa anak-anak masuk ketika suara ledakan dan tembakan terdengar. Itulah terakhir kali Nisreen melihatnya. Ia kemudian mengetahui Sami tewas akibat tembakan di kepala dari sebuah quadcopter.
Beberapa menit kemudian, rumah tempat 25 anggota keluarga berlindung dihantam serangan udara. Nisreen sempat kehilangan kesadaran. Ketika debu mereda, ia melihat darah dan potongan tubuh serta menemukan kedua anaknya telah meninggal.
Selama sekitar dua jam ia memeluk mereka sebelum keluarga akhirnya dievakuasi ke rumah sakit setelah berulang kali meminta bantuan Komite Palang Merah Internasional.
Pada hari itu, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, 89 rumah dan bangunan tempat tinggal menjadi sasaran pemboman selama hampir empat jam. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 274 warga Palestina tewas dan 698 lainnya terluka.
Empat setengah bulan kemudian, Nisreen menikah lagi dengan Mohammed, suami mendiang saudara perempuannya. Ia awalnya menolak, tetapi kemudian menerima pernikahan itu untuk membantu merawat empat anak saudara perempuannya yang kehilangan ibu.
Delapan bulan setelah pernikahan, saat Nisreen sedang hamil, Mohammed tewas dalam serangan Israel pada 8 Juli 2025 di dekat Rumah Sakit al-Awda, Nuseirat.
Nisreen kembali menghadapi kehilangan ketika kehamilannya memasuki bulan-bulan terakhir. Empat bulan setelah kematian Mohammed, ia melahirkan Sidra. Kehadiran putrinya memberi sedikit penghiburan, tetapi juga mengingatkannya bahwa anak itu akan tumbuh tanpa ayah.
Kini Nisreen tinggal bersama Sidra di rumah keluarganya di Gaza. Empat anak mendiang saudara perempuannya diasuh oleh kakek mereka dan sesekali ia mengunjungi mereka.
“Saya menjadi lebih tertutup. Saya lebih suka diam selama berjam-jam dan fokus pada putri saya,” kata Nisreen dikutip AVI dari Aljazeera, Selasa (6/10/2026).
Nisreen juga mengaku takut membuat pilihan baru atau mencoba memulai kehidupan baru setelah semua yang telah terjadi.
Tiga tahun kehilangan membuat Nisreen belum mampu melepaskan rangkaian tragedi yang dialaminya.
“Saya tidak pernah membayangkan akan mengalami semua ini dalam hidup saya,” ujarnya. “Namun, di bawah kondisi perang, sayangnya, apa pun bisa terjadi.” (nun/avi)