Bencana
AVI Humanity Salurkan Bantuan Darurat ke Korban Banjir Longsor Pidie Jaya
09 Dec 2025
0 Suka
AVI Humanity bersama Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI) kembali menyalurkan bantuan bagi korban bencana di Aceh, melalui mitra lokal Aliansi Muslimah Peduli Palestina (Alimah Pena) di Tamiang dan Langsa.
Bantuan ini juga berhasil menembus lokasi terdampak parah di wilayah Dayah Kruet, Meurah Dua, dan Desa Blang Cut, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya.
Sejumlah logistik penting telah disalurkan seperti beras, mie instan, air minum kemasan, pakaian layak pakai, dan kebutuhan dasar lainnya, sebagai respon cepat terhadap penderitaan warga yang rumah dan tempat tinggalnya terendam lumpur akibat banjir bandang dan longsor.
Kawasan Desa Blang Cut menjadi salah satu titik terdampak terparah. Di sana, lebih dari lima cabang aliran sungai baru terbentuk dan memotong jalanan, menyebabkan lumpur tebal membenamkan puluhan rumah warga.
Desa tersebut kini nyaris berubah menjadi “desa mati”, dianggap tidak layak huni oleh penduduk yang kehilangan rumah, harta, dan akses dasar. Kondisi serupa dialami di Dayah Kruet, di mana akses menuju lokasi sebagian besar masih terputus, sehingga distribusi bantuan memerlukan upaya ekstra.
Dampak bencana ini bukan sekadar kerusakan fisik. Menurut data resmi, bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatera — termasuk Aceh — pada akhir November 2025 telah memakan korban besar.
Secara nasional, data terakhir BNPB per-Selasa, 9 Desember 2025, tercatat sedikitnya 964 orang tewas, lebih dari 5000 luka-luka, dan lebih dari 262 orang yang masih dinyatakan hilang.
Sekitar 1 juta jiwa terpaksa mengungsi, dan lebih dari 3,3 juta orang terdampak langsung. Provinsi Aceh menjadi salah satu wilayah paling parah terkena dampak: setidaknya 325 jiwa meninggal, 1.800 orang luka, 204 orang hilang, serta ratusan ribu warga mengungsi. Sebanyak 46.000 rumah dilaporkan rusak akibat banjir dan longsor.
Di Kabupaten Pidie Jaya sendiri, bencana ini telah menyebabkan kerusakan hebat baik infrastruktur, pemukiman, maupun akses hidup sehari-hari.
Di berbagai gampong yang dilintasi sungai khususnya di Meurah Dua dan Meureudu dimana genangan air, aliran sungai baru, dan tumpukan kayu besar yang terbawa arus membuat banyak rumah hancur, beberapa hilang terbawa arus, dan jalan menjadi tidak dapat dilalui kendaraan. Lumpur dan sisa banjir menutup akses serta memperlambat distribusi bantuan ke sejumlah titik terpencil.
Melihat kondisi darurat tersebut, peran inisiatif kemanusiaan AVI Humanity menjadi sangat penting. Dengan membuka jalur distribusi melalui mitra setempat dan komunitas lokal, bantuan logistik dasar bisa sampai ke tangan warga terdampak, termasuk mereka yang berada di lokasi terisolasi.
Namun realitas di lapangan tetap menyimpan keprihatinan mendalam. Banyak warga kehilangan hunian, sementara lumpur dan kerusakan infrastruktur membuat akses air bersih, layanan kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya terhambat. Desa-desa seperti Blang Cut menjadi saksi bisu kehancuran akibat bencana alam yang tidak hanya merobohkan bangunan, tetapi juga mengguncang rasa aman, stabilitas sosial, dan harapan masa depan.
Dalam suasana duka dan keterpurukan ini, kiprah AVI Humanity dan Alimah Pena serat berbagai jejaring simpul sinergo lainnya diharapkan menjadi bagian dari solusi nyata yang membuka jalur bantuan, menggerakkan solidaritas, dan memberikan uluran tangan bagi saudara-saudara kita di Aceh.
Sahabat AVI, solidaritas kemanusiaan saat ini dan sampau kapanpun menjadi pijakan penting untuk membangun kembali kehidupan, memulihkan harapan, serta menata kembali masa depan bagi mereka yang terkena dampak paling parah. (nun/avi)