Makanan Bergizi Gaza
Hubungi Kami
Artikel

Semangka, Simbol Palestina yang Menyimpan Sejarah Perlawanan

19 Oct 2026 Syifa Alfi
Semangka, Simbol Palestina yang Menyimpan Sejarah Perlawanan

Di media sosial, gambar semangka 🍉 sering menyertai unggahan tentang Palestina. Orang-orang membagikannya sebagai emoji, menggambarnya di poster, atau menggunakannya dalam kampanye solidaritas. Namun, semangka bukan sekadar buah yang kebetulan memiliki warna serupa dengan bendera Palestina.

Untuk memahami mengapa semangka menjadi simbol Palestina, kita perlu mengulas kembali sejarah. Dalam perkembangannya, seniman dan aktivis berperan besar menghidupkan simbol semangka pada berbagai momen penting, hingga gambar buah ini dikenal luas sebagai lambang solidaritas terhadap Palestina.

Mengapa Semangka Menjadi Simbol Palestina?

Alasan pertama terletak pada warna. Daging semangka berwarna merah, bijinya hitam, sementara bagian kulitnya menampilkan warna putih dan hijau. Keempat warna tersebut juga membentuk bendera Palestina. Karena itu, orang dapat mengenali hubungan antara semangka dan identitas Palestina hanya dengan melihat potongan buah ini.

Akan tetapi, kemiripan warna bukan satu-satunya alasan semangka memiliki makna politik. Simbol ini juga berkaitan dengan masa ketika masyarakat Palestina menghadapi pembatasan dalam menampilkan bendera nasional mereka. Saat pengibaran bendera berisiko menimbulkan masalah, gambar semangka menawarkan cara alternatif untuk menyampaikan identitas yang sama.

Dari warna menjadi pernyataan identitas

Semangka mengingatkan orang pada bendera Palestina. Di samping itu, sejarah penggunaannya membuat simbol ini memiliki makna yang lebih dalam. Ini adalah cara kreatif untuk mempertahankan identitas ketika masyarakat menghadapi pembatasan dalam mengekspresikannya.

Sejarah Semangka yang Berkaitan dengan Pelarangan Bendera Palestina

Sejarah semangka sebagai simbol Palestina berkaitan dengan peristiwa setelah Perang Enam Hari pada 1967. Dalam perang tersebut, Israel merebut kendali atas Tepi Barat dan Jalur Gaza, serta menguasai Yerusalem Timur. Menurut laporan TIME, pada periode itu otoritas Israel melarang masyarakat mengibarkan bendera Palestina secara terbuka di Gaza dan Tepi Barat.

Untuk mengakali larangan tersebut, semangka menjadi alternatif yang masuk akal. Ketika orang menampilkan potongan semangka, mereka menghadirkan kombinasi warna yang mengingatkan pada bendera Palestina tanpa harus menggambarkan bendera itu secara langsung.

Seniman Sliman Mansour menceritakan betapa ketatnya pembatasan terhadap ekspresi visual Palestina. Kepada media The National, ia berbagi bahwa bahwa pada 1980, otoritas Israel menutup sebuah pameran di Galeri 79, Ramallah, yang menampilkan karya Mansour bersama seniman Nabil Anani dan Issam Badrl.

Pada saat itu, petugas tidak hanya mempermasalahkan lukisan bendera Palestina, tetapi juga penggunaan keempat warna bendera. Ketika para seniman mempertimbangkan bentuk lain dengan warna yang sama, petugas tetap bersikeras bahwa karya mereka akan disita.

Kisah Mansour pada 1980 menjadi bukti mengenai pembatasan ekspresi seni hanya karena ada keterkaitan dengan politik. Namun, pengalamannya tidak bisa dijadikan acuan bahwa satu kejadian tertentu merupakan satu-satunya asal-usul penggunaan semangka.

Situasi kemudian berubah pada 1993. Melalui proses Perjanjian Oslo, Israel mengakui Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), dan bendera Palestina diterima sebagai lambang Otoritas Palestina. Meski demikian, perubahan tersebut tidak menghapus konflik maupun persoalan identitas nasional Palestina. Semangka pun tetap memiliki tempat dalam ingatan dan ekspresi solidaritas masyarakat.

Bagaimana Seniman Palestina Mengembangkan Simbol Semangka?

Selain tumbuh dari pembatasan bendera, semangka memperoleh jangkauan baru melalui karya seni. Salah satu tokoh penting dalam perkembangannya adalah Khaled Hourani, seniman Palestina yang mengolah semangka menjadi representasi visual identitas nasional.

Pada 2007, Hourani menciptakan karya berjudul The Story of the Watermelon untuk buku proyek Subjective Atlas of Palestine. Kemudian, pada 2013, ia memilih salah satu cetakan dari karya tersebut dan memberinya judul The Colours of the Palestinian Flag. Karya ini membantu membawa simbol semangka kepada khalayak yang lebih luas, termasuk di luar Palestina.

Langkah Hourani memperlihatkan bagaimana seniman dapat mengembangkan simbol yang sudah memiliki konteks politik menjadi karya yang berdiri sendiri. Semangka tidak hanya mengingatkan orang pada bendera, tetapi juga mengajak mereka memikirkan hubungan antara seni, kebebasan berekspresi, dan identitas nasional.

1967

Pembatasan pengibaran bendera Palestina di Gaza dan Tepi Barat menciptakan ide baru bagi penggunaan simbol alternatif.

1980

Kisah Sliman Mansour mengenai penutupan pameran memperlihatkan pembatasan terhadap penggunaan simbol dan warna Palestina dalam seni.

2007–2013

Khaled Hourani mengembangkan karya semangka dan kemudian menampilkan salah satu cetakannya dengan judul yang merujuk langsung pada warna bendera Palestina.

Jadi, perkembangan simbol ini tidak berhenti pada upaya mengganti bendera dengan gambar buah. Para seniman juga membantu merekam pengalaman politik Palestina melalui karya yang dapat dipahami dan dibagikan oleh masyarakat luas.

Semangka Menjadi Simbol Palestina yang Terus Digunakan

Simbol semangka kembali menarik perhatian publik pada 2021, ketika ancaman pengusiran terhadap keluarga Palestina di kawasan Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur, memicu gelombang solidaritas. Pada saat itu, gambar semangka kembali muncul sebagai cara untuk mengekspresikan dukungan terhadap rakyat Palestina.

Dua tahun kemudian, simbol ini kembali menonjol dalam perdebatan mengenai penggunaan bendera Palestina di ruang publik Israel. Pada Januari 2023, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir memberi kewenangan kepada polisi untuk menyita bendera Palestina. Selanjutnya, muncul pula pembahasan rancangan undang-undang yang akan membatasi penampilan bendera di lembaga-lembaga yang didanai negara.

Menanggapi situasi tersebut, organisasi komunitas Arab-Israel Zazim meluncurkan kampanye pada Juni 2023. Mereka memasang gambar semangka pada 16 taksi yang beroperasi di Tel Aviv, disertai pesan berbahasa Inggris, “This is not a Palestinian flag” atau “Ini bukan bendera Palestina”.

Pesan itu mengandung sindiran yang jelas. Kampanye tersebut menggunakan gambar buah yang secara visual mengingatkan orang pada bendera Palestina untuk memprotes pembatasan simbol tersebut. Dengan kata lain, semangka menjadi alat untuk mempertanyakan batas kebebasan berekspresi melalui cara yang mudah dipahami publik.

Setelah perang di Gaza meningkat pada Oktober 2023, penggunaan semangka semakin terlihat dalam unggahan media sosial, poster, ilustrasi, dan kampanye solidaritas internasional. Menariknya, setiap orang memiliki alasan sendiri saat menggunakan gambar semangka.

Sebagian menyoroti sejarah pembatasan bendera, sebagian ingin menunjukkan dukungan kepada Palestina, sementara yang lain memakai simbol tersebut sebagai bentuk ekspresi di media sosial. Beragam penggunaan itu memperluas jangkauannya tanpa menghilangkan kaitannya dengan identitas Palestina.

Dari Simbol Semangka Menuju Solidaritas Nyata untuk Palestina

Semangka menunjukkan bahwa mempertahankan identitas tidak selalu membutuhkan simbol yang rumit. Sebuah gambar sederhana dapat membawa ingatan sejarah, menyampaikan sikap, dan menghubungkan orang-orang yang tinggal berjauhan.

Namun, menggunakan simbol saja belum cukup untuk membantu Palestina hari ini. Di Gaza, warga sipil masih membutuhkan dukungan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan dasar, mulai dari makanan,air bersih, layanan kesehatan, hingga tempat berlindung.

Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI) berikhtiar menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina melalui berbagai program, seperti pangan bergizi, air bersih, bantuan musim dingin, hingga bantuan darurat sesuai kebutuhan.

Relawan dan ulama AVI juga hadir langsung di Gaza untuk mendukung penyaluran bantuan, bukan hanya menggalang kepedulian dari Indonesia.

Untuk mengetahui program yang tersedia dan bentuk dukungan yang dapat diberikan, kunjungi laman program bantuan Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI).

Lanjutkan Solidaritas dengan Bantuan Nyata

Mari bantu memenuhi kebutuhan saudara-saudara kita di Gaza melalui donasi resmi Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI).

BANK SYARIAH INDONESIA (BSI)

369 369 0004

a.n. AVI Peduli Kemanusiaan

BANK MANDIRI

127 00 7223347 9

a.n. Yayasan Alquds Volunteers Indonesia

Setelah berdonasi, konfirmasikan melalui WhatsApp 0811 820 196 untuk memperoleh laporan penyaluran bantuan.

Konfirmasi Donasi via WhatsApp

FAQ Seputar Semangka sebagai Simbol Palestina

1. Mengapa semangka menjadi simbol Palestina?

Semangka memiliki warna merah, hitam, putih, dan hijau yang menyerupai warna bendera Palestina. Selain kemiripan tersebut, sejarah pembatasan bendera dan penggunaan simbol alternatif membuat semangka memiliki makna politik dan identitas.

2. Sejak kapan semangka menjadi simbol Palestina?

Penggunaan semangka sebagai simbol Palestina dikaitkan dengan periode setelah 1967, ketika pengibaran bendera Palestina menghadapi larangan di Gaza dan Tepi Barat. Seniman kemudian turut mengembangkan simbol ini melalui karya seni, termasuk karya Khaled Hourani pada 2007.

3. Siapa Khaled Hourani?

Khaled Hourani adalah seniman Palestina yang membuat The Story of the Watermelon pada 2007 untuk proyek Subjective Atlas of Palestine. Pada 2013, ia memilih salah satu cetakannya dan memberinya judul The Colours of the Palestinian Flag.

4. Mengapa semangka kembali populer pada 2023?

Pada 2023, perdebatan mengenai pembatasan bendera Palestina di ruang publik Israel kembali mendorong penggunaan semangka sebagai simbol alternatif. Setelah perang di Gaza meningkat pada Oktober, masyarakat di berbagai negara semakin sering membagikannya sebagai bentuk solidaritas.

5. Apa hubungan semangka dengan kebebasan berekspresi?

Sejarahnya menunjukkan bahwa masyarakat dan seniman menggunakan simbol alternatif untuk menyampaikan identitas ketika simbol nasional menghadapi pembatasan. Kampanye semangka pada 2023 juga memakai gambar buah ini untuk memprotes pembatasan terhadap bendera Palestina.

Bantu Mereka yang Membutuhkan di Palestina

Setiap donasi Anda memberikan harapan bagi saudara-saudara kita di Gaza.

Artikel Terkait

Bagaimana Genosida Memengaruhi Kesehatan Mental Anak Gaza?
Artikel

Bagaimana Genosida Memengaruhi Kesehatan Mental Anak Gaza?

Bayangkan seorang anak yang seharusnya menghabiskan hari dengan bermain dan belajar, justru harus be...

16 Oct 2026 Syifa Alfi
Baca Selengkapnya
Apakah Kiamat Semakin Dekat jika Palestina Merdeka?
Artikel

Apakah Kiamat Semakin Dekat jika Palestina Merdeka?

Palestina merdeka bukan hanya menjadi harapan rakyat Palestina, tetapi juga doa jutaan orang yang me...

15 Oct 2026 Syifa Alfi
Baca Selengkapnya
Beban Berlapis Perempuan Gaza di Tengah Krisis Air
Artikel

Beban Berlapis Perempuan Gaza di Tengah Krisis Air

Di tengah kehancuran akibat genosida Israel, krisis air di Gaza bukan sekadar persoalan sulit mendap...

13 Oct 2026 Syifa Alfi
Baca Selengkapnya