Bertahan Hidup Tanpa Ayah dan Ibu di Tengah Krisis Gaza
Di Palestina, ada banyak anak yang kehilangan ayah dan ibunya karena dampak genosida Israel, lalu harus menjalani hari-hari di tengah krisis Gaza dan serangan yang tiada henti. Kondisi ini membuat mereka lebih banyak merasakan ketakutan, apalagi tak ada lagi pelukan orang tua untuk membuatnya merasa aman.
Bagi anak-anak di Gaza, kehilangan bukan hanya soal berpisah dengan orang tercinta. Mereka juga menghadapi ketidakpastian, kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan luka emosional yang dapat mengubah cara mereka melihat dunia, berinteraksi, bahkan mengendalikan perasaan.
Krisis Gaza dalam angka
60.000 anak
Diperkirakan kehilangan salah satu atau kedua orang tua akibat genosida di Gaza. Orang tua mereka syahid karena serangan, bahkan sejak gencatan senjata.
Sumber: UNICEF, laporan Oktober 2026.
Siapa yang Merawat Anak Tanpa Orang Tua di Tengah Krisis Gaza?
Kakek-nenek, paman, bibi, atau kakak yang lebih dewasa, meski usianya baru belasan, mau tak mau harus mengambil alih pengasuhan. Sayangnya, tidak semua anak yang kehilangan orang tua memiliki kerabat yang masih hidup atau mampu merawat mereka. Ada yang terpaksa harus menghidupi diri sendiri, mencari cara untuk sekadar mendapatkan makanan yang dapat mengisi perut mereka hari itu.
Gambaran nyata dari Gaza
Dalam laporan UNICEF pada Oktober 2026, Jamal dan Hamza diceritakan mengumpulkan sampah untuk membantu menghidupi keluarga. Setelah kehilangan rumah dan saudara laki-laki mereka, keduanya tinggal bersama sembilan anggota keluarga lain di tenda yang rusak. Pengalaman mereka menunjukkan bagaimana kehilangan, pengungsian, dan kesulitan ekonomi dapat memaksa anak mengambil peran orang dewasa sebelum waktunya. Sumber: UNICEF.
Asesmen UNICEF pada Desember 2025 hingga Januari 2026 menemukan bahwa 92% anak yang hidup tanpa pengasuhan orang tua tinggal bersama kerabat. Namun, kerabat yang menampung mereka juga harus berjuang di tengah krisis Gaza. Dengan bantuan yang kian terbatas, mereka memikul tanggung jawab baru sambil berusaha memenuhi kebutuhan seluruh keluarga. Tak jarang, orang dewasa memilih menahan lapar agar anak-anak tetap bisa makan.
Kehilangan Orang Tua Mengubah Mental dan Perilaku Anak
Kehilangan orang tua di tengah perang dapat mengguncang psikologis dan rasa aman seorang anak. Tak sedikit yang mengalami mimpi buruk, sulit tidur, mudah terkejut, kehilangan konsentrasi, atau terus mencemaskan keselamatan orang-orang yang masih mereka miliki.
Sebagian anak menunjukkan kesedihannya dengan menangis atau menarik diri. Sebagian lainnya justru menjadi mudah marah dan kerap menunjukkan perilaku agresif. Perubahan tersebut dapat menjadi respons terhadap ketakutan, tekanan berkepanjangan, dan kesulitan mengungkapkan emosi yang belum mampu mereka pahami.
Anak yang dahulu mencari ibunya ketika takut, kini harus menghadapi ketakutannya sendirian. Ketika tidak ada orang dewasa yang membantu menenangkan dan memahami perasaannya, kesedihan dapat muncul sebagai rasa marah. Akibatnya, hubungan dengan saudara, teman, dan pengasuh ikut terdampak. Anak juga bisa kesulitan belajar, bermain, dan mempercayai orang lain.
Banyak anak mengalami trauma, kecemasan, depresi, hingga perasaan bahwa hidup mereka dapat berakhir kapan saja. Dukungan emosional dan psikososial sangat penting untuk membantu anak-anak kembali merasa aman, membangun harapan, serta memulihkan kepercayaan terhadap lingkungan di sekitarnya.
Rahma Hidayani, Wakil Direktur Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI).
Gagasan dari tulisan Rahma mengenai kesehatan mental anak Gaza. Baca tulisan aslinya.
Rahma menegaskan pentingnya pendampingan psikososial. Anak membutuhkan orang dewasa yang sabar mendengarkan, lingkungan yang aman, serta rutinitas yang membantu mereka merasa lebih stabil. Dukungan yang konsisten dapat membantu anak-anak Gaza mengenali emosi dan belajar mengekspresikannya tanpa menyakiti diri sendiri maupun orang lain.
Apa yang Dibutuhkan Anak-Anak Gaza?
Keluarga yang menampung anak juga menghadapi kehilangan dan keterbatasan ekonomi. Mereka tidak selalu dapat mendampingi anak yang kehilangan orang tua, karena harus berfokus pada kebutuhan dasar. Melalui program Orang Tua Asuh, Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI) berupaya mendampingi anak yatim dan anak terdampak krisis secara berkelanjutan.
Dukungan yang diberikan mencakup pangan, pendidikan, layanan kesehatan, dan kebutuhan sehari-hari. AVI juga berupaya menghadirkan dukungan psikososial, santunan, serta kegiatan bersama yang memberi ruang bagi anak untuk merasa diperhatikan, didampingi, dan tidak menghadapi masa sulit sendirian. Relawan dan ulama AVI hadir langsung di Gaza untuk mendekatkan ikhtiar kemanusiaan dengan kebutuhan warga. Ketahui lebih lanjut program Orang Tua Asuh AVI di sini.
Kita memang tidak dapat menggantikan orang tua yang telah tiada. Namun, kita bisa membantu memastikan anak-anak ini tetap mendapatkan perlindungan, perhatian, dan kesempatan untuk tumbuh tanpa harus menghadapi seluruh kesulitan sendirian.
Dampingi Anak-Anak yang Terdampak Krisis Gaza Bersama AVI
Salurkan donasi melalui rekening resmi Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI):
BSI 369 369 0004
a.n. AVI Peduli Kemanusiaan
Mandiri 127 00 7223347 9
a.n. Yayasan Alquds Volunteers Indonesia
Konfirmasikan donasi melalui WhatsApp 0811 820 196 untuk konfirmasi dan informasi laporan penyaluran.
FAQ Seputar Anak Yatim Piatu di Gaza
Berapa banyak anak Gaza yang kehilangan orang tua?
UNICEF memperkirakan sekitar 60.000 anak kehilangan salah satu atau kedua orang tua akibat perang, menurut laporan Oktober 2026.
Mengapa anak yang kehilangan orang tua bisa menjadi agresif?
Sebagian anak menunjukkan tekanan emosional melalui kemarahan atau perilaku agresif. Respons ini tidak terjadi pada semua anak dan perlu dipahami sesuai pengalaman serta kebutuhan masing-masing.
Bagaimana cara membantu anak yatim Gaza?
Dukungan dapat mencakup pangan, pendidikan, kesehatan, pengasuhan aman, dan pendampingan psikososial melalui program kemanusiaan yang tepercaya.