Bagaimana Warga Gaza Bersiap Hadapi Musim Dingin Palestina?
Bagi warga Gaza, musim dingin Palestina bukan sekadar perubahan cuaca. Ketika hujan deras turun, angin bertiup kencang, dan suhu malam menurun, keluarga yang tinggal di tenda atau bangunan rusak harus kembali menghadapi ancaman terhadap tempat tinggal dan kesehatan mereka. Kondisi tersebut sangat membahayakan anak-anak dan orang tua yang sudah rentan.
UNICEF mencatat bahwa hampir 84 persen penduduk Gaza, atau lebih dari 1,76 juta orang, masih tinggal di lokasi pengungsian yang padat atau shelter yang tidak memadai. Karena itu, banyak keluarga hanya memiliki perlindungan terbatas dari udara dingin, hujan deras, dan banjir. Bahkan, pada musim dingin sebelumnya, sedikitnya 11 anak dilaporkan meninggal akibat hipotermia.
Gambaran kondisi musim dingin di palestina
Pada musim dingin 2025–2026, UNICEF mencatat suhu malam sekitar 8–11°C dengan angin kencang mencapai 30–40 km/jam.
Karena kondisi tempat tinggal mereka sangat terbatas, warga Gaza melakukan berbagai persiapan sederhana. Mereka memperbaiki tenda, memperkuat shelter, menjaga pakaian tetap kering, serta berusaha melindungi keluarga dari hujan dan udara dingin. Setiap langkah tersebut membantu menghadapi cuaca yang semakin berat.
Memperbaiki dan Memperkuat Tenda Sebelum Hujan
Banyak keluarga masih mengandalkan tenda sebagai tempat tinggal setelah kehilangan rumah atau berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Namun, hujan dan angin dapat dengan cepat merusak material tenda yang sudah lama digunakan.
Karena itu, keluarga di Gaza harus segera memperbaiki bagian yang robek atau bocor dan menguatkan tenda yang longgar sebelum hujan berikutnya datang. Ketika air sudah masuk, mereka juga perlu mengeluarkan genangan air, mengangkat kasur, dan berusaha mengeringkan pakaian serta barang-barang yang terkena air.
Sebelum hujan
Keluarga memperbaiki bagian tenda yang rusak dan memperkuat shelter agar lebih mampu menahan angin serta hujan.
Saat air masuk
Mereka mengeluarkan genangan, mengangkat kasur dan barang penting, kemudian mengeringkan pakaian serta perlengkapan keluarga.
Menutup Celah pada Tempat Tinggal yang Rusak
Selain tinggal di tenda, tidak sedikit juga keluarga bertahan di bangunan rusak. Kondisi tersebut membuat mereka dihadapkan pada persoalan lain ketika hujan turun. Air dapat masuk melalui bagian bangunan yang terbuka dan kemudian membasahi ruang tempat mereka tidur.
Oleh sebab itu, keluarga harus berusaha menutup bagian yang terbuka dan memperbaikinya dengan bahan yang masih tersedia. Sulit untuk mendapatkan material bangunan dengan kondisi Gaza yang masih dalam keterbatasan. Akibatnya, mereka harus mampu bertahan dengan cara menjaga area tetap kering dan terlindung semaksimal mungkin.
Keluarga di Gaza bukan sekadar mempertahankan kenyamanan. Dengan kondisi yang sulit, para orang tua harus berusaha menjaga tempat tinggal tetap kering, mengurangi paparan angin, dan menciptakan ruang yang lebih aman bagi anak-anak serta anggota keluarga yang rentan.
Menjaga Kasur, Pakaian, dan Barang Penting Tetap Kering
Hujan juga mengancam barang-barang yang digunakan setiap hari. Kasur, selimut, pakaian, dan perlengkapan lain dapat ikut terendam ketika air masuk ke dalam shelter atau menggenangi area pengungsian.
Karena itu, warga berusaha mengangkat barang dari permukaan tanah dan memindahkannya ke tempat yang lebih tinggi. Setelah hujan berhenti, tak ada istirahat atau waktu berdiam. Mereka harus segera mengeringkan barang-barang yang basah agar tetap dapat digunakan. Hal ini sangatlah penting karena keluarga hanya memiliki sedikit barang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Mencari Bahan Bakar untuk Memasak dan Menghangatkan Diri
Ketika suhu turun, keluarga di Gaza juga membutuhkan sumber energi untuk memenuhi kebutuhan dasar. Mereka perlu memasak makanan sekaligus menghadapi udara dingin di tempat tinggal yang tidak memiliki pemanas memadai.
Namun, keterbatasan bahan bakar membuat kebutuhan tersebut semakin sulit dipenuhi. Hampir semua keluarga kesulitan mendapatkan gas dan listrik. Material seadanya seperti kayu, sampah, kain, dan benda-benda mudah terbakar lain bisanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Sayangnya, asap pembakaran yang memberikan kehangatan ini menimbulkan masalah kesehatan, membuat banyak anak terserang penyakit pernapasan.
Menyiapkan Selimut dan Pakaian Hangat
Keluarga juga perlu melindungi tubuh dari suhu rendah. Selimut, pakaian hangat, jaket, dan perlengkapan musim dingin menjadi kebutuhan penting, terutama bagi anak-anak. UNICEF menyebut bayi, anak kecil, dan anak dengan kondisi kesehatan tertentu lebih rentan mengalami hipotermia dan infeksi saluran pernapasan ketika menghadapi suhu dingin. Karena sulitnya memenuhi kebutuhan, banyak warga Gaza yang mengandalkan bantuan internasional.
Bagi anak-anak, suhu dingin menambah risiko
Ketika anak tinggal di shelter yang basah, padat, dan tidak memadai, udara dingin dapat memperburuk kondisi yang sudah rentan. Karena itu, perlindungan sederhana seperti tempat tidur yang kering, pakaian hangat, dan shelter yang lebih tertutup memiliki peran penting.
Musim Dingin Palestina Lebih dari Sekadar Turunnya Suhu
Bagi banyak keluarga di Gaza, datangnya musim dingin bukan hanya sekadar menyaksikan turunnya suhu. Di tengah genosida yang masih terjadi, mereka perlu mempertahankan tempat tinggal yang tersisa. Kemampuan keluarga untuk bertahan pun sangatlah sulit. Banyak shelter tidak memberikan perlindungan yang memadai, sementara hujan deras dan banjir dapat merusaknya kembali.
AVI Hadir dengan Program Bantuan Musim Dingin
Melihat kebutuhan tersebut, Alquds Volunteers Indonesia (AVI) berusaha hadir untuk saudara-saudara kita di Palestina melalui Program Bantuan Musim Dingin Palestina. AVI menyesuaikan bantuan dengan kebutuhan di lapangan, mulai dari makanan hangat, pakaian dan jaket, selimut, hygiene kit, obat-obatan, bahan bakar, hingga air bersih.
AVI tidak hanya memantau kebutuhan dari Indonesia. Relawan dan ulama AVI hadir langsung di Gaza. Kehadiran tersebut memungkinkan AVI memperoleh gambaran kebutuhan warga Palestina di Gaza dari kondisi lapangan dan kemudian menyesuaikan bantuan yang disalurkan.
Bukan dari Jakarta. Dari Gaza.
AVI membawa informasi dan kebutuhan dari lapangan agar bantuan dapat mengikuti kondisi nyata yang dihadapi warga Palestina.
Bantu Kebutuhan Musim Dingin Gaza melalui AVI
Musim dingin menambah kebutuhan keluarga yang sudah hidup dengan keterbatasan. Anda dapat ikut membantu melalui Program Bantuan Musim Dingin Palestina AVI agar kebutuhan warga Palestina di Gaza dapat terus dipenuhi sesuai kondisi di lapangan.
BSI: 369 369 0004
a.n. AVI Peduli Kemanusiaan
Mandiri: 127 00 7223347 9
a.n. Yayasan Alquds Volunteers Indonesia
Konfirmasi donasi dan informasi program: WhatsApp 0811 820 196. AVI berkomitmen menyampaikan laporan penyaluran bantuan kepada donatur.
FAQ Musim Dingin Palestina di Gaza
Bagaimana warga Gaza bersiap menghadapi musim dingin?
Warga memperbaiki dan memperkuat tenda, menutup bagian shelter yang terbuka, mengangkat kasur dan barang dari genangan, mengeringkan pakaian, serta menyiapkan pakaian dan perlengkapan untuk menghadapi cuaca dingin.
Seberapa dingin musim dingin di Gaza?
Dalam laporan UNICEF pada Januari 2026, suhu malam di Gaza berada sekitar 8–11°C. Pada saat yang sama, angin kencang dapat mencapai sekitar 30–40 km/jam.
Mengapa musim dingin berbahaya bagi anak-anak Gaza?
Bayi dan anak kecil lebih rentan terhadap hipotermia serta infeksi saluran pernapasan ketika mereka tinggal di shelter yang dingin, basah, padat, dan tidak memadai.
Berapa banyak warga Gaza yang masih tinggal di shelter yang tidak memadai?
UNICEF memperkirakan hampir 84 persen penduduk Gaza, atau lebih dari 1,76 juta orang, masih tinggal di lokasi pengungsian yang padat atau shelter yang rusak dan tidak memadai.